Dalam rangkaiannya, Pesta Blogger 2010 mengadakan roadshow ke 10 kota, salah satunya adalah kota Manado. Bangga dan khawatir, itu yang kira-kira muncul saat pertama kali saya diberi tahu secara langsung oleh panitia PB+ 2010 mengenai rencana ini sekaligus diminta menjadi panitia lokal. Bangga bahwa Manado ternyata juga mendapat kesempatan mendukung PB+ 2010 sekaligus khawatir dengan segala keterbatasan kami. Manado menjadi kota tujuan roadshow ketiga setelah Makassar dan Padang.
Ada hal-hal unik mengenai Manado yang menurut saya luput dari pertimbangan saat panitia PB+ 2010 memutuskan memilih Manado. Selain bahwa Manado tidak punya fasilitas kereta subway dan museum lilin, tidak adanya komunitas blogger resmi lokal juga menjadi kendala terbesarnya. Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa justru kendala inilah yang dijadikan pertimbangan utama panitia PB+ 2010 menunjuk Manado sebagai satu dari sepuluh kota tujuan roadshow. Membentuk komunitas blogger lokal.
10 hari waktu yang kami punya untuk mengatur kesiapan acara blogshop dan mini PB 2010. Segala upaya diusahakan untuk mengumpulkan blogger atau pihak-pihak yang bersedia menjadi panitia. Fakta bahwa blogger Manado masih sangat minim akhirnya melahirkan panitia dengan komposisi 3 blogger dan 2 aktivis. Dan setidaknya, sebagian dari kami baru saling mengenal saat bertemu pada hari pembentukan panitia, beberapa menit sebelum buka puasa di Pizza Hut, Mega Mall. Sempurna.
Seiring waktu yang semakin sedikit dan rentetan surat elektronik dari chairperson dan panitia PB+ 2010, sedikit demi sedikit persiapan kami jalankan. Sulit, karena kami harus membagi konsentrasi dengan aktifitas rutin pekerjaan yang umumnya mencapai puncak kesibukan menjelang lebaran namun juga seru, karena kami tertantang mengulang kesuksesan acara seperti di 2 kota pelaksanaan roadshow sebelumnya, Makassar dan Padang.
Selebaran pun disebar di kampus-kampus. Respon yang kami terima cukup baik setelah sebelumnya harus menjelaskan pada setiap yang bertanya tentang apa itu blogging. Lalu spanduk dan backdrop dicetak. Lokasi pelaksanaan blogshop dan mini PB pun sudah dipesan. Publikasi dan penyebaran infromasi juga kami lakukan gerilya ke facebook, twitter, email hingga ke portal-portal online beberapa komunitas di manado. Undangan dicetak dan dibagi dari pintu ke pintu perwakilan komunitas lokal, dengan harapan mereka mengutus perwakilan untuk hadir pada acara nanti.
Semangat yang luar biasa. Dan ini membuka sudut pandang kami tentang Manado. Bahwa Manado adalah kota dengan banyak keragaman. Ada orang-orang yang punya kegemaran bermain rubik. Mereka menamakan perkumpulan mereka Speedcubing. Ada yang punya kegemaran aneh melompat dari gedung ke gedung, dan menamakan perkumpulan mereka Parkour Community. Lalu ada para pesulap jalanan, yang gemar berjalan meninggalkan orang-orang yang keheranan setelah sebelumnya menunjukkan trik sulap untuk menyapa orang berikutnya, berkumpul menjadi Streetmagic Community. Para penyuka sepeda, penyuka komputer, komunitas aeromodelling, penyuka ikan. Mereka semua ternyata ada di Manado. Dan beberapa sudah menyatakan kesediaan untuk hadir.
Ironis sekali. Dengan banyaknya perkumpulan yang akan diundang dalam acara nanti, pengundang sekaligus panitia lokal yang menamakan diri komunitas blogger Manado bahkan belum punya wadah resmi sebagai sebuah komunitas. Jumlah kami memang tidak banyak seperti daerah lain yang mencapai puluhan bahkan ratusan. Jumlah kami sedikit. Sangat sedikit sehingga untuk membentuk panitia lokal pun merupakan sebuah kekhawatiran. Dan itu mungkin menjadi alasan mengapa para blogger Manado tidak tertarik untuk membuat perkumpulan. Para blogger ini larut dengan kegemarannya menulis sendiri-sendiri.
Lalu tercetuslah ide membentuk komunitas blogger Manado. Fakta bahwa di antara calon peserta blogshop maupun mini PB juga ada yang punya blog menjadi faktor pendukungnya. Keinginan menunjukkan eksistensi, menjadi faktor lain. Muncullah nama Kawanua Blogger. Kawanua, yang berarti para penghuni tanah leluhur Minahasa sangat cocok untuk disandangkan pada komunitas ini. Benar bahwa Kawanua Blogger sebelumnya sudah pernah terdengar dan diposting di sebuah halaman blog. Namun status blog yang sudah lama non aktif dan eksistensi Kawanua Blogger yang masih abu-abu menjadi alasan kami untuk melahirkan kembali komunitas ini secara resmi dan terpublikasi. Dan kehadiran chairperson Pesta Blogger+ 2010 di Manado adalah waktu yang sangat tepat untuk peresmiannya.
Peserta blogshop dan mini PB sudah dikumpulkan. Menunggu kehadiran chairperson PB+ 2010 dan panitia dari Jakarta. Begitu pun dengan saya dan teman-teman panitia lokal, berharap acara blogshop dan mini PB berjalan sesuai harapan.
Semuanya sudah siap ketika tiba-tiba saya diminta oleh kantor tempat saya bekerja untuk berangkat ke Makassar. Ada rapat penting yang mengharuskan saya hadir pada hari Jumat, sehari sebelum pelaksanaan blogshop dan mini PB. Dengan demikian panitia lokal segera berkurang menjadi 4 orang. Namun demi menjaga semangat dan memaksimalkan kesiapan panitia dan acara di Manado, saya tidak segera berangkat dengan penerbangan Kamis. Saya memilih menunda hingga ke penerbangan terakhir yang bisa saya usahakan, penerbangan pertama di hari Jumat pagi.
Selamat untuk kelahiran segera Kawanua Blogger, komunitas blogger Manado. Dan sukses untuk acara Pesta Blogger+ 2010.
Sebagai keluarga baru apalagi setelah dikaruniai anak, antusiasme memperhatikan detil demi detil perkembangan anak adalah hal yang wajar. Begitupula yang terjadi pada saya dan Ummi setelah hadirnya anggota ketiga keluarga kami, Shofiyyah.
Shofi punya kedekatan yang misterius dengan bedong-bedongnya. Dulu bedong-bedong ini cukup menutup seluruh badan Shofi dari kepala sampai kaki. Dan begitu dibedong, maka Shofi akan tertidur dengan pulas. Bulan demi bulan berlalu, Shofi tetap membutuhkan bedong meskipun tidak diselimutkan lagi. Shofi hanya perlu menggumpalkannya, menggenggamnya dan memeluknya setiap kali mau tidur. Shofi seakan bisa mengindera aromanya, rasa nyamannya atau apapun itu bahkan saat tidur. Saya lalu membayangkan Shofi setelah besar menjadi onwer sebuah perumahan bernama Bedong Residence dan menginstruksikan semua pemilik rumah untuk mengganti gorden rumahnya dengan bedong. Fatal.
Saat usianya memasuki 7 bulan, Shofiyyah sudah punya satu gigi bawah mungil yang lucu. Membuat senyumnya semakin manis dan menggemaskan terlebih saat mengenakan jilbabnya. Saat Shofi menggigit-gigitkan gusinya yang baru ditumbuhi satu gigi ini ke tangan atau ke bahu rasanya geli dan basah. Namun hanya sebulan setelahnya kondisi ini berubah menjadi ancaman serius. Semakin serius dengan munculnya total 6 buah gigi masing-masing 4 di atas dan 2 di bawah. Dan ini tampaknya benar-benar dimanfaatkan dengan jenius oleh Shofi untuk mengambil alih kekuasaan di rumah yang memang hanya dihuni oleh kami bertiga. Seperti saat Shofi menolak meminjamkan bantal kesayanganya untuk saya jadikan sandaran kepala waktu baca buku.
“A na na na na. Aaa naa aa.. A aa nana buuuwaa.”
“Pinjam bentar.. Abi lagi baca.”
Shofi merangkak mendekat. Matanya memandang lekat ke mata saya lalu mulutnya membuka. Menunjukkan gigi-giginya.
“Iya iya.. ambil deh.”
Dan begitulah. Shofi sangat menikmati hadirnya gigi-gigi kecilnya. Yang tadinya hanya bisa pasrah dengan menu bubur sekarang sudah bisa menginvasi momen makan malam dan berebut tahu tempe dengan umminya. Tampaknya gigi-gigi ini membuat gusi Shofi gatal pengin terus menggigit sesuatu. Kaki lemari, tempat tidur, baskom, sisir, semuanya dikunyah. Bahkan si Ummi harus merelakan telepon genggamnya masuk servis karena beberapa komponen elektroniknya rusak terkena air liur Shofi setiap kali Shofi berhasil merebutnya dari tangan Ummi.
Lalu momen paling ditunggu pun akhirnya tiba. Momen Shofi melangkahkan langkah pertamanya sendiri. Sebenarnya Shofi sudah bisa berjalan sejak 8 bulan. Tapi masih harus berpegangan pada sesuatu atau dipapah. Resminya, Shofi kecil sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan saat berusia sebelas bulan dan dua hari. Dan karena Shofi adalah anak pertama kami, maka langkah kecil Shofi menjadi langkah besar dalam keluarga kami. Momen Shofi bisa berjalan ini kemudian menimbulkan simbiosis antara Shofi dan Umminya. Tidak perlu lagi menyibukkan Shofi dengan mainan saat umminya mau nyapu, masak atau ngambil jemuran karena Shofi akan setia membuntuti dari belakang kemana saja ummi melangkah. Persis seperti ikan Remora yang nempel pada ikan Hiu. Bedanya ikan Remora mengambil manfaat dari Hiu melalui simbiosis Komensalisme (Remora mendapat keuntungan tapi Hiu tidak dirugikan dan tidak diuntungkan) sedangkan Shofi dan Ummi lebih bersimbiosis kompetisi (Shofi dan Ummi saling merugikan. Biasanya terjadi saat perebutan makanan dan sapu ijuk).
Beberapa hari lagi dengan Izin Allah Shofiyyah akan melewati tahun pertama seperti yang juga pernah Anda lewati.
Sudah hampir sebulan ini saya menjomblo. Tidur sendiri, bangun sendiri, makan sendiri, mandi sendiri.. cebok sendiri. Rumah yang biasanya ramai dengan ocehan si kecil Shofy yang mulai belajar bicara sekarang sunyi. Istri dengan mobilitas tinggi -karena hampir selalu bisa saya jumpai di ruang manapun di dalam rumah tanpa saya tahu kapan dia berteleportasi- sekarang tidak kelihatan lagi. Yak, istri dan anak dapat jatah liburan pulang kampung sebulan. Saya harus mengalah dengan permintaan mertua untuk bisa ngumpul dengan cucu pertamanya, Shofy di kampung. Maka tinggallah saya sendirian di rumah kami di Manado. Dan saat saya bilang sendiri, artinya sebatang kara.
Satu dua hari berlalu. Satu dua minggu berlalu. Aktifitas saya sehari-hari adalah seperti ini :
1. Bangun pagi, mandi.
2. Berangkat kantor. Sarapan di kantor saja.
3. Keluar kantor setelah jam makan malam. Memaksimalkan isi pantry di kantor.
4. Sambil pulang, mampir di warung untuk makan malam.
5. Tiba di rumah, langsung masuk kamar dan tidur.
Saya sebagai penghuni tunggal tentunya harus bertanggung jawab terhadap kelayak-hunian rumah. Dan dari sinilah tragedi bermunculan. Dimulai dengan pertemuan saya dengan penjual sayur di suatu pagi yang cerah, waktu saya dengan semangatnya jogging depan pintu rumah dengan sandal jepit yang ternyata dua-duanya kanan, si penjual sayur langganan istri saya tiba-tiba berhenti dengan tatapan tajam ke arah pantat saya. Segera saya berhenti bergerak. Memastikan bahwa benar si tukang sayur sedang menatap pantat saya sambil memasang muka awas. Saya tatap matanya, lalu pantat saya, lalu matanya lagi. Saya sudah hampir berteriak “TOLOONG, SAYA MAU DICULIK PENJUAL SAYUR HOMO!” ketika tiba-tiba yang keluar dari mulutnya adalah “Mas, mau beli sayur?” dengan tatapan tetap ke arah pantat. Belakangan saya tau si tukang sayur memang juling.
“Tidak, mas. Istri lagi pulkam. Jadi gak ada yg masak.” Kata saya.
“Gak papa, beli aja dulu terus ditanam. Keliatannya mas suka nanam sayuran, ya? Sayurannya subur nih.” Sambil menunjuk ke halaman. Tapi kali ini dia menatap jendela kamar.
“Mas.. Ini di halaman bukan tanaman sayuran, mas. Ini semak belukar.”
Dan saya segera sadar bahwa gerombolan semak belukar di halaman seakan bersiap menginvasi rumah.
Lalu ada lagi si Hari, teman sekantor yang gila bola dan ngotot mau nginap di rumah untuk nonton bola dengan alasan siaran bola di rumah saya lebih jernih. Kebetulan saya memang hanya menggunakan antena UHF biasa. Dan kebetulan lagi, siaran PD rupanya lebih baik ditonton dengan TV berantena UHF.
Karena saya tidak punya kursi apapun di rumah maka teknisnya: si Hari akan duduk sepanjang malam di lantai depan televisi sambil ngemil remote.
Si Hari inilah yang menemukan tingkat ketebalan debu di seluruh area depan televisi sudah pada taraf menghawatirkan. Simpelnya, kalau anda melihat ke area depan TV anda tidak akan menemukan apa-apa selain lantai di situ. Tapi begitu anda duduk di lantai kemudian berdiri, anda akan meninggalkan jejak berbentuk pantat yang mengerikan.
Saya bahkan tidak pernah tau sapu diletakkan di mana.
Harus saya akui. Pekerjaan mengurus rumah memang susah. Dengan adanya istri di rumah, yang saya tau hanyalah menjadi penghuni layaknya tamu hotel saja. Entah dari mana asalnya pakaian kantor yang sudah terseterika rapi, sarapan pagi yang hangat, makan malam yang terhidang dan semua yang tersedia dalam rumah. Saya pergi dan pulang kantor seperti biasa dan mendapati rumah dalam keadaan layak huni dan nyaman. Faktanya, di rumah kami hanya bertiga. Saya, istri dan si kecil Shofy yang bahkan berjalan pun belum lihai. Dan dengan kejadian ini saya semakin kagum dengan istri saya. Maka kalian para suami, jangan biarkan istri kalian pulang kampung. Eh maaf.. Kalian para suami, beri penghargaan luar biasa untuk istri kalian yang luar biasa.
One, two
Buckle my shoe
Three, four
Knock at the door
Five, six
Pick up sticks
Seven, eight
Lay them straight
Nine, ten
A big fat hen
Eleven, twelve
Dig and delve
Thirteen, fourteen
Maids a’courting
Fifteen, sixteen
Maids in the kitchen
Seventeen, eighteen
Maids a’waiting
Nineteen, twenty
My platter’s empty …
Saya tidak perlu lagi menjelaskan apa itu SMS. Pokoknya ini fasilitas wajib bagi semua telepon genggam.
Sekarang telepon genggam sudah bukan masuk kategori barang mewah. Kemarin pas mau ke kantor liat anak TK pegang dua Hp. Satunya GSM dan satunya lagi sepertinya CDMA. Sambil menelepon dia ngomong gini “Ma, yang jemput siapa? Ade telpon pake Hp yang satu gak diangkat-angkat.” Otak cerdas saya segera mengasumsikan di masing-masing Hpnya cuma ada 1 phonebook. Di Hp pertama hanya ada nomor Mamanya, di Hp kedua cuma nomor supir pribadi mamanya. Dan saya membandingkan dia dengan diriku waktu masih TK dulu.
Saya sendiri baru punya telepon genggam setelah lulus sekolah dan bekerja.
Kembali ke topik, meskipun saya kalau menulis SMS suka disingkat-singkat seperti :
Bos, dr mn aja? sy sdh tlp dr kmrn ga ada yg angkt.
tapi tetap saja saya tidak suka dengan model SMS seperti ini:
1. huruf besar kecil :
iYa nicH, Gw laGe bnYK KerJaaN. Hp gW KtnGGalan di HuM. PokOgNya Gw PaZTi DatnG DecH.
2. Huruf besar kecil yang didramatisir :
GilA Azza Lo! EmnKnyA Gw G tW apA kLo Dy 2 Tmn Lo jG? Kn suD Gw bLG lO jGn kNaln Gw k Dy. AkhRn kN jd Rbt Gn!!!!
3. Pendek dan membingungkan :
Pkkn hyG Kn Btuna. Cpe ngrni Dian?
4. Huruf besar kecil, panjang, membingungkan dan menjengkelkan :
Dsn PnJm kkNyA 1 nNt DgnT Sm kt KmR spkR yG 1nyA lG pls SlnyA lg Bu Tp Mn Bl Bsk Hr sBtu Ga uDh bL mALl tLG yA blS!
Bacanya aja jadi malas apalagi mau membalas? Tapi ya beginilah tren kirim-kiriman SMS saat ini. Entah siapa yang memulai. Padahal kan rata-rata telepon genggam punya 160 karakter perSMS, ada yang lebih. Ngirim SMS panjang dan ngirim pendek biayanya bakal sama saja. Memangnya mau kirim telegram yang hitung perkarakter? Ngirim telegram juga gak pake huruf besar kecil kale.




