Posted by Ucha on Dec 9, 2008 in
Emo
“Kamu itu kok mau-maunya tinggal di kamar kost. Kamu kan bareng istri, malu dong kalau cuma numpang sewa kamar aja, bakal repot!” Tanteku sedikit ngomel di telpon waktu saya ngobrol tentang di mana saya tinggal bareng istri sekarang.
Iya, saya memang tinggal di kamar kost berdua bareng istri. Bukan rumah kontrakan, apalagi rumah sendiri. Beginilah kalau hidup di rantau. Lebih enak berpikiran praktis dan efektif. Siapa yang tahu besok saya pindah tugas ke daerah lain, ya kan? Lagipula apa salahnya tinggal ngekost. Kamar kost saya meskipun tidak bagus-bagus amat, toh tidak jelek-jelek amat. Halaman parkir di rumah bapak mungkin lebih besar dibanding ukuran kamar kost saya. Satu tempat tidur, meja rias untuk istri, lemari dan kamar mandi sudah cukup rasanya. Selebihnya saya manfaatkan untuk dapur-dapuran, rak sepatu dan rak buku-buku saya. Sisa ruangan nyaris hanya pas untuk saya dan istri berdiri sholat berjamaah. Cukup, kan?
Toh istri saya tidak mengeluh. Meskipun sebenarnya saya siap nyari rumah kontrakan kalau seandainya istri saya protes, tapi dia tidak protes. Tiap hari saya harus tinggalin dia ke kantor dan baru tiba di rumah selepas Isya, karena setelah jam kantor saya biasanya ikut pengajian dulu selepas maghrib. Menurut dia, dengan kondisi kamar kost yang kecil dia jadi tidak khawatir ditinggal sendiri. Beda kalau harus ditinggal sendiri di rumah dengan 2 atau 3 kamar. Katanya sih nanti saja kalau sudah ada si kecil..
Jadi keluarga muda memang masih sering bikin kagok. Saya awal-awalnya sering tidak ngeh kalau sudah beristri. Dulu di rumah mertua, saya malah minta istri keluar kamar karena saya mau istirahat. Eh, dianya nurut.. Pas bangun saya kaget, mana istri saya? Hahaha. Kadang juga kalau lagi tidak ada pengajian, saya paling senang berlama-lama di kantor. Bisa main game jaringan sama teman-teman. Begitu ada SMS dari istri baru kaget kelimpungan.
Dan ternyata berkeluarga itu enak, coy! Saya masih belum mau berpikir tentang masalah-masalahnya. Dan tidak mau nyari-nyari masalah. Pokoknya saya pikirin enak-enaknya aja.
Posted by Ucha on Oct 28, 2008 in
Emo

They said “take your time. Let us do the rest. Just be prepared and get ready”
Verywell, then.
So technically, I don’t do anything.
It’s a week left to my wedding. Err, did I say wedding? wedding like.. you know, two people united in marriage? Actually I never imagine being in this situation, not this fast. I mean, everything seems so easy. I can even entitle this as “the easiest big thing in my life”. You like someone, you tell your family, propose her and finally you are in this phase, waiting for a wedding day.
So, everything set already as they said. I don’t even know what to wear on that day. That makes my preparation even simpler. Ah, live is so beautiful.
I feel nothing but excited.
Posted by Ucha on Oct 9, 2008 in
Emo

Hidup seperti hitam dan putih. Ada baik dan buruk, gelap dan terang, hidup dan mati.
Saya telah memutuskan melangkah. Dan memilih bunga mawar putih sebagai tema pembuka kehidupan baru saya nanti. Dengan penuh harap bahwa mawar putih ini menjadikan sebab berkah dari Allah untuk memutihkan kembali semua hitam yang pernah saya lakukan. Sekaligus menjadi penyempurna separuh iman saya.
Doakan, ya..
Posted by Ucha on Sep 27, 2008 in
Emo
Lebaran tahun ini saya pulang ke rumah di Makassar. Cuti 2 minggu khusus untuk bisa merasakan puasa dan lebaran di rumah bersama keluarga, hal yang sangat jarang bisa saya lakukan setelah beberapa tahun belakangan saya bekerja dan menetap jauh dari rumah.
Bapak sudah i’tikaf sejak 10 hari terakhir Ramadhan (dua hari sebelum saya tiba di rumah) dan mendelegasikan fungsi kepala keluarga pada saya. Meskipun bukan anak pertama, saya anak laki-laki tertua yang masih tinggal dengan orang tua dan belum menikah. Cukup berat. Saya bertanggung jawab mulai dari mewakili eksistensi Bapak pada kolega-koleganya, mengurus ibu dan adik-adik, memimpin sholat sampai membangunkan sahur seisi rumah -yang rekor bangun sahur tersulit masih dipegang oleh adik bungsu saya, Abdun, 8 tahun yang sampai hari ini sudah 3 hari bolong puasa-
Sering saya dapati bunga melati di beberapa tempat di dalam rumah. Kadang dirangkai kadang tidak. Jelek, tidak menarik. 5 sampai 10 kuntum bunga melati di rangkai pada benang begitu saja. Digantung di gorden kamar depan, di meja depan, di ruang sholat atau tergeletak begitu saja di lantai. Kami memang punya tanaman melati di halaman rumah yang sudah ada di sana sejak saya kecil. Hanya satu, tapi sering berbunga. Awalnya saya pikir itu untuk mengharumkan ruangan. Dan saat saya tanyakan pada Nadhirah, adik saya yang 13 tahun, dia hanya menjawab:
“Karena harumnya seperti Bapak.”
Mama (Ibu) saya membenarkan. Beliau menceritakan kesukaaan bapak pada bunga melati. Sering beliau petik dan diselipkan di telinga adik-adik saya; Nadzir, Bibah, Nadhirah, Uswah, Fati dan Abdun. Kadang juga beliau rangkai beberapa bunga untuk sekedar menikmati harumnya saat sedang kerja. Hal yang benar-benar luput dari perhatian saya. Sering kali adik-adik saya merangkai melati dan menikmati harumnya bersama bapak. Melati seakan mewakili eksistensi bapak. Saat beliau tidak ada, semua merasa kehilangan. Menegaskan bahwa tidak ada sosok lain yang bisa menggantikan posisi beliau. Lebih dari itu, saya merasakan aura dan wibawa bapak sebagai seorang paling berpengaruh di keluarga kami, dan seorang yang paling dicintai seisi rumah.
Hari ini masih hari ke tujuh dari 10 hari i’tikaf bapak. Bapak baru akan pulang saat hari raya, tiga hari lagi. Tapi rasa rindu tiba-tiba tumbuh begitu kuat. Tidak sabar rasanya ingin segera berlebaran dan berkumpul kembali. Momen yang tepat untuk mencium, memeluk dan merangkul tubuh bapak yang semakin lemah. Semakin kuat sosok beliau menjadi teladan nyata untuk saya. Perjalanannya, cara memimpin, cara membimbing, tekad dan prinsip hidupnya. Semuanya.
Kehormatan bagi saya bisa menjadi kepala keluarga sesaat. Wakil dari beliau yang tiada duanya. Dan saya sudah membuat dua rangkaian melati pagi ini.
Posted by Ucha on Sep 9, 2008 in
Photography

Camera : NIKON D80
Lensa : Nikkor 18-135
FL : 18mm
Speed : 1/3 s
F-number : F/40
Location : Bergen, Norway
Langit berwarna benar-benar biru malam itu. Mempertegas hawa dingin yang seharusnya membuat saya lebih memilih berselimut di kamar hotel daripada berjalan di taman yang becek oleh salju sambil mengambil foto. Toh saya tidak sendirian di taman. Seorang fotografer juga sedang menikmati hal yang sama dengan saya. Dia hanya tersenyum sekali, lalu menghilang dengan backpack dan tentengan tripod di tangan kanannya. Dan yang tersisa kemudian hanya saya, pohon kering dan sunyi. Ah, malam yang indah di Bergen.
Jujur saja, saya lelah mencari kebahagiaan. Semua yang sudah saya lakukan seperti hilang begitu saja. Saya rindu Allah. Pada akhirnya saya harus mengaku kalah, bahwa semua pencarian saya selama ini rancu.