[Ucha Weblog]

Perjalanan Hari Ini

SURAT UNTUK ISTRIKU

June27

Sudah delapan bulan lebih sejak ku ucapkan qabul atas ijab pernikahan kita. Aku masih ingat sekali, hari itu aku perlu sapu tangan ekstra tebal untuk mengatasi keringat dan menyiasati rasa gugup. Detik-detik saat aku duduk dikelilingi Bapak imam, ayahmu dan dua orang saksi. Aku memang luar biasa gugup saat itu. Kamu tidak tahu, istriku. Tidak juga orang-orang di sekelilingku. Mungkin kamu juga gugup di dalam kamar menanti akad nikah kita. Dalam hati aku bahkan bertanya-tanya seperti apa rupamu di dalam sana. Yang bisa aku ingat sekuat ingatanku hanya senyummu. Senyum yang kau tunjukkan sambil tertunduk pertama kalinya kita bertemu tidak lebih dari 5 menit sebulan sebelumnya. Alhamdulillah akad nikah hari itu berlangsung lancar. Sesaat setelahnya kita akhirnya bertemu lagi. Kuusap keningmu sambil berdoa, dan untuk pertama kalinya kita berdiri sholat berjamaah di dalam kamar, sementara undangan menunggu acara makan di luar. Aku imamnya, kamu makmumnya.

Awalnya aku ragu, jujur saja. Bagaimana mungkin aku memutuskan hidup bersama orang yang baru aku kenal seumur jagung hanya berbekal informasi dari orang-orang tengtangmu. Tapi kamu akhirnya mematahkan keraguanku tanpa kecuali. Mereka salah tentang kamu yang sangat tertutup, sehingga tidak banyak yang mengenal kepribadianmu. Mereka salah tentang ketertinggalanmu dari hingar bingar tren. Mereka salah tentang kamu yang menurut mereka tidak akan sanggup mengimbangiku. Mereka salah karena mereka tidak tahu.

Kamu tertutup karena memang begitulah seharusnya wanita terhormat bersikap. Tapi kamu sangat terbuka terhadap aku, suamimu. Kamu tidak ketinggalan dari glamor dan arus tren yang dianggap menjadi menu wajib masyarakat modern, yang benar kamu mendahuluinya karena kamu yang justru meninggalkannya. Kamu berhasil menjaga dirimu dengan sempurna lahir dan batin dari perkara-perkara yang tidak seharusnya kamu lakukan. Tidak kau bairkan orang selain muhrimmu berhak atas dirimu, bahkan untuk memandangmu. Kamu berbeda dan kamu berhasil melakukukannya. Kini giliran aku yang melakukannya untukmu sekuat tenagaku. Menjagamu, istriku.

Hari-hari berlalu dengan sangat indah sejak saat itu. Kamu memang berbeda. Tidak seperti mereka yang pernah aku kenal yang lebih mengenal dunia daripada dirinya sendiri. Kamu mengenal dirimu dengan sangat baik, hak-hakmu, kewajibanmu, posisimu. Kamu mengenal akhiratmu dengan baik sehingga kamu mengutamakannya, sama baiknya dengan mengenal duniamu sehingga kamu berhati-hati terhadapnya.

Delapan bulan bukan waktu yang cukup untuk mengenalmu. Tadinya aku berpikir akan sulit bagiku untuk membingmu. Aku salah, karena aku yang belajar banyak darimu. Saat senang kamu yang mengingatkanku agar tidak jumawa. Saat sukar kamu yang mengajakku bersabar. Bahkan saat aku katakan aku mencintaimu lebih dari apapun, kamu hanya tersenyum. Dan dengan lemah lembut memintaku untuk tidak mencintaimu lebih besar dari kecintaanku pada Allah dan NabiNya. Kamu bilang itulah kenikmatan iman. Kamu ingat, kan? Ah, bodohnya aku ini di hadapanmu. Aku malu padamu, istriku. Lalu bagaimana mungkin aku membenarkan mereka yang mengatakan kamu tidak akan sanggup mengimbangiku?

Hari ini delapan bulan lebih sudah kita bersama. Di dalam perutmu bahkan sudah ada calon bayi kita. 7 bulan sudah usia kandunganmu. Anugerah sekaligus amanah yang luar biasa besar. Insya Allah Ramadhan tahun ini akan sangat meriah buat kita, istriku. Akan ada aku, kamu dan anak kita dengan izin Allah.

Teruslah seperti ini, istriku. Menjadi perhiasan terindah untukku. Akan kujaga sebaik-baiknya. Kupertanggung jawabkan sebenar-benarnya. Tapi bantu aku, ya. Jangan biarkan aku lalai dari kewajibanku padamu dan pada Allah tuhan kita.

Suamimu.

posted under Emo | 5 Comments »

WORLD OCEAN CONFERENCE YANG ANEH

May13

Saya merasa terhormat bisa menjadi saksi hidup World Ocean Conference (WOC) pertama di dunia. Entah WOC ini akan digagas kembali atau cukup menjadi event pertama dan terakhir, saya tidak peduli. Yang saya peduli, kapan orang-orang yang memenuhi Manado saat ini bisa kembali dengan selamat di negara mereka masing-masing tanpa meninggalkan sedikitpun ancaman flu babi di kota ini.

Jadi ceritanya, pemerintah mengatur peredaran mobil di jalan kota Manado selama event WOC. Aturannya tiap tanggal ganjil hanya mobil dengan plat berakhiran ganjil yang boleh keluar. Sebaliknya tanggal genap khusus untuk mobil dengan plat berakhiran genap saja yang boleh keluar. Aturan yang sepertinya sangat efektif mengurangi kemacetan kalau diterapkan di kota besar seperti Jakarta, tidak termasuk kemacetan lain karena demonstrasi para supir gara-gara aturan ini. Dan kemarin, berhubung tanggal 12 disepakati sebagai tanggal genap, kendaraan yang biasa saya pakai dengan plat 2395AB -di mana 5 adalah angka ganjil- jelas tidak bisa beredar.

Otak cerdas saya segera mempertimbangkan hal-hal berikut :

  1. Naik mobil lebih praktis dengan bawaan yang banyak.
  2. Naik mobil lebih nyaman dibanding naik bendi. Bendi tau, kan? kendaraan perang zaman Bharatayudha.
  3. Naik angkot dengan rute: rumah - kantor - apotik - tukang cukur - tukang sate - toserba - pasar - rumah lagi, dengan lokasi masing-masing yang tersebar di delapan penjuru mata angin, sepertinya kurang efektif dengan mempertimbangkan macet dan harus berpacu dengan waktu mepet antara jam pulang kantor dan jam makan malam istri saya (yang memanfaatkan kondisi ngidamnya untuk membuat aturan waktu makan malam yaitu 10 menit sebelum sholat Isya atau saya tidur di ruang tamu).

Saya akhirnya memutuskan untuk nekat pakai mobil saja. Dan sesuai jadual hari itu, beredarlah mobil dengan plat 2395AB ini mengitari rute wajibnya. Dan benar saja, pak polisi (mulai saat ini kita sebut saja PP) demi melihat mangsa seorang ganteng nekat (mulai saat ini kita sebut saja GN) yang beredar dengan plat ganjil, langsung siap-siap di pinggir jalan dengan sumpritan sambil tidak lupa mengibas-ngibaskan kertas tilang.

PP : “Selamat sore pak, tau hari ini tanggal berapa?”
GN : “Tanggal 12?”
PP : “Benar Pak. Tanggal 12 tanggal genap dan Bapak saya tilang karena melanggar.”
GN : “Maaf Pak, pelanggarannya apa ya?”
PP : “Bapak keluar dengan plat ganjil. 2395 itu ganjil pak dan sesuai aturan, plat dengan akhiran ganjil tidak boleh keluar di tanggal genap.
GN : Tiba-tiba kepikiran untuk ngeles, kali aja lolos. “Maaf pak, plat nomor saya 2395AB. Bukannya akhirannya yang dilihat pak? berarti B kan pak? B itu kan genap.”

Si pak Polisi bingung. Karena kebetulan dia operasi sendirian, jadi dia tidak bisa konfirmasi ke siapapun tentang siapa yang benar.

PP : Dengan nada suara ragu-ragu, “yang dilihat akhiran angkanya pak, bukan hurufnya.”
GN : Demi melihat ada celah, sekalian aja ngotot. “Di mana-mana akhiran itu ya yang paling belakang pak. Kalau angkanya doang bukan akhiran namanya.”

Si pak Polisi akhirnya mencoba menghubungi rekannya melalui HT PTT. Dan entah dua-duanya yang oneng atau si pak polisi yang salah dengar, dia seperti tidak puas. Si Pak Polisi kemudian mencoba mengkonfirmasi pada beberapa orang yang melintas. Tapi bahasa tubuh orang-orang yang saya lihat sepertinya mengatakan “Eh ada Pak Polisi. Mau diganyang rame-rame ya? Pakai garpu atau tusuk sate, Pak?” Akhirnya Pak Polisi nyerah dan saya bebas dengan dititipi pesan,
PP : “Baik pak, silakan lanjut. Jangan lupa besok bapak tidak boleh pakai mobil ini.”

Tentu saja besok saya pakai lagi. Besok kan tanggal 13. Saya yakin beberapa menit setelah saya berlalu, si pak polisi ini nyadar dan segera mengecek pemilik nomor kendaraan 2395AB untuk dijadikan target operasi.

Aduh, maafkan saya pakpol. Bapak sih, mau aja diisengin. Hidup WOC lah..!

posted under Emo | 13 Comments »

NGEJAGAIN ISTRI HAMIL

April14

Waduh, sodara-sodara, lama banget saya belum posting apapun lagi di blog. Berhubung masih disibukkan dengan aktifitas sebagai suami dan calon bapak dengan istri yang bolak-balik mual dan muntah tiap pagi, morning sickness yang sangat, sangat-sangat sangat mengkhawatirkan. Jadinya saya hampir tidak punya waktu ngeblog. Maafkan saya.. hihihi.

Kadang saya masih gak ngeh kalau istri saya lagi hamil. Apalagi kami memang pengantin muda. Dan sekarang, di dalam rahim istri saya ada calon bayi. Benar2 luar biasa skenario Allah buat kami.

Ngomong2 soal punya anak nih, jadi ingat sitkom OKB yang conversationnya kaya gini :
A : “Wah, lama gak ketemu nih. Makmur kayanya.”
B : “Biasa aja kok. Kamu gimana? Anak lo dah berapa?”
A : “Baru satu..”
B : “Cewek pa cowok?”
A : “Cewek..”
B : “Udah nikah?”
A : “Wah belum tuh, masih sekolah..”
B : “Belum nikah kok dah punya anak?”
A : “???”

Dan saya masih ingat benar waktu istri saya minta dibuatin sayur bayam yang dicemil sama coklat silver queen.

posted under Emo | 16 Comments »

SAYA GAK RELA JADI KORBAN TOILET UMUM

February19

lokasi: Toilet umum salah satu mall di Manado

Tentu saja saya sedang buang air, masa lagi berendam. Kebetulan waktu itu pengen buang air kecil dan urinoir penuh semua. Jadilah saya buang air kecil dalam salah satu kamar WCnya. Waktu udah di dalam, tiba-tiba dari kamar sebelah terdengar suara khas orang lagi buang air besar. Bukan suara orangnya, tapi suara efek yang dihasilkan.

Hmm, oke kita permudah saja analoginya; anda sedang sakit perut kebelet dan tidak berhasil menemukan toilet. Dengan akal sehat anda sadar bahwa anda sedang mengalami gangguan pencernaan akut. Kemungkinan terparah adalah anda akan buang air dengan kondisi mengenaskan. Mengeluarkan semua isi perut dengan tidak pakai antri lagi. Setelah sukses menahan hasrat selama sekitar 3 jam 15 menit, anda akhirnya nemu toilet dan ….

Balik ke cerita, saya akhirnya harus mendengarkan efek suara itu selama saya buang air kecil. Arrghh.. tentu saja mengganggu saya menikmati buang air kecil. Seperti alur cerita, efek suara ini juga pakai alur maju mundur. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang diam, eh tiba-tiba cepat lagi. Dan baunya.. Oh, tentu saja efek baunya berbanding lurus dengan suaranya.

Dan begitu saya keluar wc untuk cuci tangan di wastafel, semua orang di toilet memandang penuh curiga ke arah saya. Sebagian ada yang dengan vulgarnya langsung mengarahkan pandangan ke arah bokong saya, masih dengan tatapan penuh curiga. Ada juga yang sudah langsung nyelutuk ke temannya, “gila, makan orang kali ni orang!” dengan tatapan juga tetap ke arah saya. Wah ini pelanggaran asas praduga tak bersalah, nih!

Dan semuanya langsung ngeloyor keluar toilet dengan kesimpulan di dalam ada temannya Sumanto baru habis boker. Saya protes dong.. orang bukan saya kok. Tapi berhubung saya dengan cerdasnya sadar bahwa ini mall, dengan kemungkinan menemukan kembali orang-orang yang tadi di toilet sangat kecil, saya akhirnya tidak bisa mengkonfirmasi ke mereka kalau itu bukan saya.

Gondoknya lagi, orang di dalam wc, si tersangka yang menyebabkan saya difitnah ngomong gini, “tenang aja mas, gak ada yang kenal mas ini..”. Bengke cumi ni orang, bukannya bilang terimakasih ke saya malah ngasi sugesti.

Saya curiga dia pasti masih dalam posisi jongkok waktu ngomong.

posted under Emo | 25 Comments »

NYAMPAH MULU SIH!

February13

Ada tuh, foto caleg dengan nomor urut 23. Siapa dia saya juga gak kenal, pokoknya di posternya lebih gede foto mukanya Beckham daripada dia. Slogannya “Pilih no 23. Beckam aja pilih 23!” Bwaahahahaaa.. Ini menurut saya brilian. Selain dia sukses bikin orang yang liat ketawa, dia juga sukses menunjukkan kebodohannya dia. Pak, nih ye.. Beckham tuh sekarang nomor punggungnya 32. Dan oh ya, Beckham itu tulisannya Beckham pake “H”, bukan Beckam, Pak..

Ada 44 partai politik dengan ribuan caleg seluruh indonesia. Tiap daerah kayanya punya ratusan caleg dengan tiap caleg punya ratusan poster dan baliho. Dipasang di mana-mana gak di tiang listrik, di pohon, di pagar rumah orang, di angkot. Apa itu namanya bukan nyampah?

Di depan rumah saya saja tadi pagi udah ada lagi poster sama bendera partai terpasang di bambu yang diikat di pagar. Warna hijau coy! kemaren-kemaren warna hitam kuning putih. Pernah juga warna biru. Saya jadi mikir, jangan-jangan partai2 ini sedang memata-matai dan berusaha membujuk saya untuk jadi caleg mereka. Halah..!

Bukan cuma itu, foto-foto yang terpasang juga belum tentu masyarakat kenal. Eh, tau-tau udah ngumbar janji dan slogan yang -maap yee- najis! Tidak tahu dari mana si Bapak/Ibu ini mulai, pokoknya sekarang udah jadi caleg aja. Kontribusinya kemaren-kemaren mana Pak? Ngomongnya aja sekarang gede. Giliran terpilih malah hilang dari tanggung jawab. Apa itu namanya bukan nyampah?

Eh ada lagi poster caleg dengan tulisan “Keturunan kesekian sultan ini, kesekian pangeran itu, dst bla bla bla..” Idih! hari ini masih aja ada dompleng mendompleng. Gak malu apa, pak?

Aduh.. Udah deh Pak, Bu. Udah saatnya mikirin akhirat, dunia udah cukup.. Lagian caleg-caleg juga rata-rata (meskipun gak semua) orang berada kok. Daripada nyampah mulu. Kan saya capek bersihin poster-poster bapak nih tiap hari..

posted under Emo | 10 Comments »
« Older Entries