Pengalaman Diving Dengan Ikan Terbesar di Dunia

Tau nggak ikan apa yang paling besar di dunia? Paus Biru? salah, karena Paus biru bukan ikan tapi mamalia. Meskipun paus dan ikan sama-sama hidup di laut, tapi Mamalia itu beda dengan ikan. Mamalia menyusui dan bernafas dengan paru-paru, sementara ikan bertelur dan bernafas dengan insang.

Terus kalau bukan Paus Biru (Blue Whale) apa dong ikan terbesar di dunia?

Menurut semua sumber literatur yang ada, ikan terbesar di dunia adalah Whale Shark atau Hiu Paus (Rhincodon typus). Ukuran terbesar yang pernah diukur adalah 17 meter dengan berat mencapai 37 ton. Kebayang gak ukurannya?

Nah, kerennya lagi Hiu Paus ini punya habitat di laut tropis, termasuk perairan Indonesia. Dulu waktu awal-awal belajar diving, menyelam bareng Hiu Paus jadi salah satu impian saya yang ngebayanginnya aja suka bikin ngeri-ngeri sedap. Ya coba aja bayangin menyelam bareng ikan raksasa yang hobinya nyedot air laut sambil mangap. Kalau dia keselek? Bisa ikut kesedot juga kita.

whale shark gorontalo
Perbandingan Ukuran Whale Shark dengan Manusia

Di Indonesia, untuk bisa menyelam bareng Whale Shark butuh effort yang besar dari sisi biaya, tenaga dan waktu. Salah satu lokasi paling populer adalah di Kwatisore, Nabire, Papua. Untuk bisa ke sana tentunya gak cukup naik ojek aja. Perjalanannya panjang dan melelahkan. Tapi mostly mereka yang sudah balik dari sana selalu pulang dengan puas dan bahagia. Tapi.. buat saya seorang ‘diver nista’, Whale Shark trip ke Kwatisore ini sungguh beyond the reach dan practically impossible. Dan saya sudah mengikhlaskan diri kalau gak bakal punya kesempatan ini.

Dasarnya rejeki anak soleh, ternyata di tahun 2015 kemarin muncul lah dive spot baru di Gorontalo yang katanya adalah tempat tinggal sekeluarga Whale Shark. Kebetulannya lagi di tahun itu lokasi kerja saya adalah Manado, which is jaraknya ke Gorontalo tinggal sepelemparan batu (yang dibungkus pake tiket pesawat). Konon lokasi itu sebenarnya sudah lama jadi perlintasan favorit Hiu Paus selama bertahun-tahun karena ada pabrik pengolahan udang. Limbah ampas udang inilah yang jadi makanan favorit para Whale Shark. Baru kemudian di tahun 2016 pemerintah daerah Bone Bolango secara resmi membuka kawasan pantai Botubarani sebagai destinasi wisata Whale Shark. Menurut informasi, tercatat ada 18 ekor Whale Shark yang berhasil didata, dengan ukuran bervariasi dari 4-13 meter.

Dengan gagah berani, meluncur lah saya ke Gorontalo demi mewujudkan impian katrok ini.

Perjalanan Manado-Gorontalo saya tempuh dengan jalur darat pakai van exslusivenya Nyiur Trans. Sengaja saya pilih perjalanan malam dengan van supaya bisa tidur nyaman dan tiba di Gorontalo sepagi mungkin. Saya gak mau menghabiskan waktu 9 jam perjalanan di siang hari duduk bosan memandangi jendela. Kalau perjalanannya malam, bosannya cuma sejam pertama saja. Setelahnya anda tahu yang terjadi.

Jam 4 subuh, tibalah saya di Gorontalo. Setelah dandan, dan konsultasi ke om-om di situ, ternyata jarak dari pool Nyiur Trans ke pantai Botubarani hanya 20 menit dengan Bentor. Pas banget! saya memang butuh armada dengan bagasi yang cukup untuk bawa perangkat lenong saya. Segambreng dive gear, hardcase kamera dan tentu saja tas pakaian. Bentor was just so.. perfect.

Naik Bentor Gorontalo
Bentor Yang Saya Tumpangi

Ternyata pantai Botubarani sepagi itu sudah ramai pengunjung. Mereka umumnya datang untuk snorkeling atau sekedar naik perahu sambil ngasi makan Hiu Paus. Di lokasi ini juga dibuat beberapa aturan interaksi dengan Whale Shark. Kecepatan kapal ketika mendekati kelompok Whale Shark harus disesuaikan, 10 knot jarak 1 mil dan 2 knot jarak 50 meter. Jumlah wisatawan yang menyelam dan snorkeling dibatasi dalam sekali turun enam orang dengan satu pemandu. Aturan lainnya adalah durasi berinteraksi maksimal 30 menit untuk setiap kapal. Pengunjung juga tidak diperkenankan menyentuh, mengambil foto dengan cahaya dan wajib mematuhi arahan pemandu. Ini menurut saya keren sekali.

Whale Shark Gorontalo
Aturan Berinteraksi Diberlakukan

Desa nelayan Botubarani awalnya sama seperti desa nelayan umumnya. Sepi dan kosong. Tapi sejak wisata Whale Shark ini resmi dibuka, pantai yang kosong berubah jadi pos masuk dan warung jajanan. Warga menyulap pekarangan rumahnya jadi lahan parkir dengan tarif Rp 2000-5000/kendaraan. Sedangkan untuk masuk, wisatawan dikenakan retribusi Rp 50.000/kepala termasuk sewa jukung. Ampas udang untuk memberi makan dijual terpisah. Warga juga menyediakan sewa snorkel dan masker dengan harga Rp 30.000/set.

Awalnya saya gak yakin bisa benar-benar ketemu dengan Whale Shark. Kalaupun ketemu, palingan hanya 1 ekor dan ukurannya kecil. Itupun mungkin lihatnya dari jauh. Saya gak terlalu berharap. Lagipula sambil diving toh saya masih bisa main dengan ikan lain yang lucu-lucu. Tapi dive operator saya berani menggaransi ketemu Whale Shark setidaknya 3 ekor. Para Whale Shark ini juga ternyata sudah punya nama masing-masing. Ada Sherly yang paling kecil dan Syahrini yang pake bulu mata badai. Lalu yang ukuran besar ada yang namanya Bima dan Hercules.

Entry di penyelaman ini adalah ‘shore entry’. Hanya sekitar 20 meter dari bibir pantai, kedalaman dasarnya sudah langsung sekitar 35 meter. Setelah melihat aba-aba dari guide, saya pun masuk ke birunya laut. JENG.. JENG!

Saya bahkan belum sempat atur posisi kamera ketika kawanan Hiu Paus ini benar-benar muncul di sekitar kami. Saya shock bukan main. Gak nyadar Tahlil dan Istighfar berkumandang. Kami tiba-tiba kayak liliput dikerubutin Godzilla. Seumur-umur saya baru kali itu hadap-hadapan sama ikan seukuran bus Trans Jakarta disusun tiga. Bukan cuma satu ikan, saya hitung setidaknya ada enam ekor hilir mudik naik turun dengan horornya. Jujur saja saat itu jantung saya berbedar lebih kencang dari biasanya.

I was like “THIS IS IT, I’M SO GONNA DIE HERE!”.

Whale Shark Gorontalo

Setelah beberapa menit berlalu dengan saya yang cuma terdiam sambil tahlilan di kedalaman 15 meter, akhirnya saya mulai memberanikan diri. Ikan-ikan raksasa ini ternyata sangat friendly dan anggun. Meskipun badannya bongsor, gerakannya gemulai dan sangat atraktif. Mereka kayaknya memang senang bermain dengan rombongan manusia nekat ini. Saya bahkan kena sundul satu ekor Whale Shark yang tiba-tiba muncul dari belakang. Sumpah, itu rasanya seperti diseruduk Hiu Paus (menurut ngana?).

“Halo Bima, akhirnya kita ketemu,” dalam hati saya menyapa Whale Shark 10 meteran yang baru saja melintas.

Whale Shark Gorontalo

Di permukaan air, perahu-perahu nelayan sibuk melayani pengunjung yang mau beinteraksi dengan Hiu Paus tapi tidak mau basah-basahan. Yang saya kurang setuju adalah para nelayan ini selalu memukul-mukul perahunya dari atas sambil memanggil-manggil nama para Whale Shark dengan harapan ikan-ikan ini akan merespon dan muncul ke permukaan. Memang, Whale Shark ini akhirnya muncul satu persatu menerima ampas udang yang ditabur. Tapi dari bawah air, suara ketukan-ketukan perahu ini sangat berisik dan mengganggu. Dan sebagai hewan liar, Hiu Paus ini mungkin saja tidak senang dengan kebisingan yang diciptakan dari suara ketukan-ketukan perahu. Setiap kali mereka menabur ampas udang, Whale Shark ini akan muncul ke permukaan sambil membuka mulut. Ini sungguh uji nyali buat para pengunjung. Gimana tidak, ukuran mulut Whale Shark ini saat mangap lebih besar dari perahunya. Kalo Whale Sharknya iseng gimana?

Whale Shark Gorontalo

Well, hari itu saya kembali ke hotel dengan perasaan takjub yang luar biasa, dan bersiap untuk penyelaman lagi besoknya. Sebagai oleh-oleh, saya sempat capture beberapa scene video trip ajaib ini. Ditonton yah..

Fotografi Aliran Absurdisme

Dahulu kala, ketika Perang Dunia belum terjadi dan Bumi masih diliputi kedamaian, kamera adalah barang yang langka. Yang punya pun hanya kalangan terbatas. Kalau bukan wartawan, ya fotografer profesional. Mungkin selain karena ukurannya yang besar, harganya juga masih mahal. Bahkan konon kamera terbesar ukurannya seperti bajay disusun tiga. Dioperasikan oleh manusia sekampung. Ada yang bertugas khusus untuk megangin lensanya, ada yang mencetin shutternya dan ada tim koreografernya. Ribet yah.

Kamera Terbesar
Kamera Mammoth oleh George L. Lawrence tahun 1900

Beda sama sekarang. Kamera sudah banyak berceceran di mana-mana karena sudah menyatu dengan ponsel. Hampir semua orang punya ponsel yang ada kameranya. Dan karena saking banyaknya, kamera perlahan-lahan mulai kehilangan identitasnya. Kalau bukan untuk bikin foto mesum, ya untuk bikin video mesum.

Dulu zaman masih STM, saya pernah dipaksa ikut seminar fotografi oleh guru kesenian. Seminar ini diadakan oleh perhimpunan wartawan. Mereka mengajarkan bagaimana menghasilkan sebuah foto yang bisa bercerita. Hanya dengan melihat foto, orang bisa mengerti maksud yang ingin disampaikan oleh si fotografernya. Untuk menghasilkan sebuah foto yang bagus, menurut orang-orang ini, perlu ketepatan momen, komposisi, dan teknis kamera. Ini jelimet dan bikin bingung. Dan karena saking nggak pahamnya dengan konsep ini, saya pun kabur dari seminar.

Satu-satunya yang saya dapati dari seminar itu adalah fakta bahwa saya tidak punya bakat fotografi. Belakangan saya juga akhirnya tahu berapa rupiah biaya seminar yang sudah saya sia-siakan itu karena besoknya dipanggil menghadap ke ruang BP. Konon panitianya melapor ke sekolah karena saya ketahuan kabur dari seminar.

Fotografi

Tapi betapa pun saya dasarnya nggak punya bakat foto-memfoto, tapi kalau melihat hasil foto yang nggak jelas kadang suka kesal juga. Apalagi kalau informasi di foto itu memang sedang diperlukan tapi foto tersebut sama sekali nggak membantu. Itu rasanya seperti pengin ngulek cabe di muka tetangga.

Nah, Istri saya adalah salah satu fotografer penganut aliran absurdisme. Yaitu fotografer yang hasil fotonya selalu gagal menjelaskan maksud yang ingin dia sampaikan. Fotografer yang antara hasil foto dan captionnya sering nggak nyambung.

Pada akhirnya saya sadar bahwa absurdity inilah yang telah menyatukan kami. Istri saya absurdisme fotografinya, kalau saya absurdisme wajahnya.

Jadi pada suatu hari, ketika saya sedang dinas luar kota, istri saya ngasi kabar lewat whatsapp bahwa si bungsu Shofwan tiba-tiba demam. Dengan nada panik dia ngasi info bahwa Shofwan sekarang kondisinya tidak sehat dan terbaring lemas. Istri saya minta advice harus ngapain.

Saya sebagai Ayah yang ganteng, cepat tanggap melakukan browsing dengan kata kunci ‘anak sakit dan lemas’. Yang terbayang oleh saya saat itu adalah Shofwan yang sedang terkulai dan wajahnya ngenes. Dari hasil browsing, muncul lah penjelasan bahwa perlu dilihat apakah si anak tampak pucat, ada ruam di tubuh, ada gigi yang mau tumbuh dan sebagainya. Saya minta foto kondisi Shofwan sesuai hasil browsing saya dengan tujuan dapat deskripsi tambahan yang dibutuhkan.

Beberapa saat kemudian foto ini yang muncul:

Shofwan Sakit
Foto ini lost focus dan gagal menunjukkan kondisi Shofwan

Kelihatannya Shofwan sehat-sehat saja.

Pernah juga di suatu hari yang sedang diguyur hujan lebat, ketika saya sedang di kantor, istri saya kirim pesan whatsapp ngasi tau kalau air di kamar mandi meluap, tapi dia nggak tau itu air apa, sumbernya dari mana dan kenapa bisa meluap. Saya mau coba bantu menganalisa dan minta dikirimkan foto. Tidak lama kemudian foto ini yang muncul:

Toilet Rumah
Ini foto kloset yang lost focus

Saya zoom-in dan zoom out berkali-kali, tapi tetap gak paham air mana yang meluap.

Setelah kejadian itu, untuk urusan minta informasi detail pada istri ketika sedang jauhan, saya lebih sering nelpon langsung daripada minta foto.

Tipe Pengguna Path Berdasarkan Isi Postingannya

Tipe Pengguna Path

Dulu, sebelum adanya aplikasi Path, orang-orang masih apdet status sebatas tulisan, tanpa foto. Sampai akhirnya facebook dan twitter memperkenalkan fasilitas upload gambar, yang ternyata tetap kalah populer (di Indonesia) dibanding aplikasi Path yang dari sononya memang buat upload gambar. Nah, salah satu contoh orang yang biasanya akan saya unfriend paling awal adalah yang status facebook atau twitternya ngomongin aktifitas hariannya menit demi menit, seperti ‘pengin ke toilet nih’, ‘lagi cebok’, ‘mau makan apa ya?’, ‘tidur dulu ah’, ‘banyak nyamuk’ dan ‘kebangun pengin pipis’.

Status-status seperti ini selain menuh-menuhin layar karena terlalu singkat, padat dan menjengkelkan, juga gak penting-penting amat untuk jadi konsumsi umat manusia.

Tapi ternyata, tipe-tipe seperti ini juga ada di aplikasi Path. Bedanya, mereka mengupdate status dengan gambar. Berikut adalah tipe para pengguna Path berdasarkan isi postingannya :

Tipe Informan

Pengguna Path tipe ini sangat rajin mengupload gambar yang sangat informatif. Saking rajinnya, gambar yang diposting biasanya berentetan dengan subjek yang sama, seperti sedang bikin serial kulpath (kalau di twitter namanya kultwit). Misalnya pas mau mandi, dia memulai dengan posting prosesi masuk wc, diupload. Dalam wc, upload. Sementara pake sabun, diupload. Eh.. Sabunnya habis, diupload. Shampoan, upload. Keluar wc, diupload. Lalu dia kebingungan milih baju, diupload. Akhirnya dia capek dan mukanya ngenes, diupload juga. Dan semua rentetan foto-foto ini diupload tiap 2 menit, yang kalau kita mau cari postingan orang lain harus scroll down dulu 7 halaman.

Tipe Pamer Kerjaan

Tipe ini adalah orang yang suka posting kerjaan dia di kantor sehari-hari, kepada temannya yang juga sebenarnya masih sekantor sama dia. List temannya adalah orang-orang sekantornya saja, dan tentu saja atasannya. Isinya adalah usaha untuk nunjukin betapa dia begitu gigih dan merupakan tipikal pekerja keras. Seakan-akan nasib perusahaan tempat kerjanya bergantung pada dia. Pagi-pagi upload foto lagi ngabsen dengan latar gedung kantornya sambil ngasi caption ‘kantor gue nih guys’. Lalu upload foto meja kerjanya. Kemudian upload list pekerjaannya, dilanjutkan dengan foto mukanya yang sedang kusut dengan caption “sibuk banget nih sampe gak sempat nge-path.” Beberapa saat kemudian upload foto sedang meeting.

Dia melakukan itu semua tanpa sadar bahwa semua pembaca pathnya tau dia kerja di mana (karena emang sekantor semua), dia sedang ngerjain apa, dan bahwa sebenarnya dia seharian cuma mainan path aja.

Tipe Penggerutu

Orang seperti ini selalu mengeluh di setiap postingan Pathnya. Seakan-akan tidak ada lagi di dunia ini yang lebih sengsara dari dirinya. Fatalnya, kadang keluhan yang dia posting terlalu tepat sasaran. Saking sudah menjadi kebiasaan, dia bisa mengeluhkan orang yang ada dalam list temannya sendiri. Bisanya terjadi antara karyawan dan atasan yang sama-sama berteman di Path.

Tipe pengguna Path

Tipe Super Nyinyir

Isi postingan pengguna Path tipe ini adalah menebar aura negatif ke seluruh dunia. Apa saja dikomentarin negatif dan dinyinyirin. Biasanya mereka adalah fans garis keras sebuah klub bola tingkat Kecamatan yang tidak lolos Piala Dunia. Mereka kemudian menggiring khalayak pada opini bahwa Piala Dunia itu hanyalah sebuah konspirasi saja. Dan hanya klub bola miliknya yang paling hebat sedunia.

Perlahan-lahan pengguna Path tipe ini mulai menyalah-nyalahkan DPR gara-gara tidak membuat aturan penyelenggarakan Piala Dunia tingkat Kecamatan. Lalu akhirnya memprotes segala kebijakan Presiden, dan pada akhirnya merencanakan mendirikan negara baru. Di Mars.

Tipe Rajin Berteman

Pengguna Path tipe ini tidak terlalu banyak posting foto. In fact, malah gak pernah posting apa-apa. Gak pernah mencoba untuk membuat orang lain ngiri dengan foto-fotonya, gak pernah juga bikin postingan nyinyir pada pak Presiden. Satu-satunya gambar yang pernah dia posting adalah foto jempol kakinya dengan caption ‘test’ tiga tahun yang lalu. Meskipun setelah itu gak pernah posting apa-apa, di halaman profilnya tertulis ‘3 years, 1063 moments’

Isi pathnya setelah postingan ‘test’ tadi adalah kalimat ‘Friends with Jaka’, ‘Friends with Joko’, ‘Friends with Diana’ dan begitu seterusnya dari awal sampe akhir sampai 1063 moments.

Tipe seperti ini adalah pengguna path yang rajin berteman.

Tipe-Pengguna-Path

Tipe Pengundang Tanda Tanya

Pengguna Path tipe ini adalah mereka yang suka banget upload gambar tanpa caption. Semua yang dia posting hanya gambar tanpa disertai penjelasan ada apa dengan gambar itu. Padahal gambar paling abstrak sekali pun, yang biasa dipajang di pameran-pameran itu, semuanya tetap dikasi judul oleh pelukisnya. Meskipun kadang judulnya gak ada relevansinya sama gambarnya.

Tapi kan tetap aja ada judulnya.

Orang tipe ini tidak menganut asas desktiptif pada gambar-gambarnya. Komentar teman-temannya gak ada satu pun yang dia balas. Hari ini dia posting foto boneka santet, beberapa saat kemudian dia posting foto selfie dengan wajah sinis sambil mengacungkan paku dan dupa. Besoknya dia posting foto silet.

Tipe pengguna Path

Memang sih, aplikasi medsos diciptakan bukan hanya untuk menghabiskan quota paket data, tapi juga untuk menghabiskan waktu penggunanya. Amerika punya Whatsapp, Twitter, Facebook, Instagram, Youtube, Canada punya BBM, China punya WeChat, Weibo, RenRen, Korea punya KakaoTalk, Jepang punya Line, dan kita di Indonesia punya waktu untuk make semua aplikasi itu.

Medsos juga diciptakan untuk mengakomodir denial para penggunanya akan kondisi dia sebenarnya. Aslinya jelek jadi keliatan cakep, aslinya kuper jadi keliatan tenar, aslinya jomblo jadi keliatan laku. Tentunya dengan berbagai usaha dan kemampuan manipulasi status yang lihai.

Namun tidak semua berjalan lancar seperti yang diinginkan. Kebanyakannya, yang terjadi adalah kejomplangan yang tragis. Mereka yang mukanya pas-pasan ketika update foto atau video dengan skill tingkat dewa sekalipun, paling yang ngelove 2-3 orang saja. Salah satunya dia sendiri, dua lagi adeknya dan temannya yang gak tegaan. Beda kalau yang update foto aslinya memang cakep, yang ngelove bisa puluhan. Padahal cuma upload foto bangun tidur dengan iler berceceran di mana-mana dengan caption ‘baru bangun tidur nih pemirsa’. Itupun di antara yang komen tetap aja ada yang bilang, “bidadari bisa tidur juga yah?”

Buat yang mukanya pas-pasan lalu menyaksikan kondisi seperti ini, akan langsung menyadari betapa hidup memang tak adil lalu berniat bunuh diri.

Kamu tipe pengguna Path yang mana?

Wisata Kota Malang-Batu-Bromo Dalam 24 Jam (1)

Wisata kota Malang– Ini mungkin salah satu trip saya yang paling singkat tapi padat destinasi. Mengingat saya hanyalah karyawan kantoran kere dengan jatah cuti terbatas (dan duit pas-pasan) tapi suka traveling, maka salah satu kaidah utama dalam setiap trip saya adalah ‘wherever you go, do it fast’.

Tujuan trip saya kali ini adalah wisata kota Malang, wisata kota Batu dan wisata gunung Bromo dalam 24 jam. Start dari Surabaya, menuju Malang dan berakhir kembali di Surabaya. Destinasinya adalah kawasan lumpur Sidoarjo, lanjut ke Kota Malang, makan di rumah makan Inggil yang klasik, lalu ke Kota Batu untuk jalan-jalan ke Jatim Park, wisata edukasi di Eco Green Park, lanjut ke Museum Angkut, kemudian menikmati permainan lampu di Batu Night Spectacular, menyambut sunrise di Gunung Bromo, main ke hamparan Pasir Berbisik di kaki Gunung Batok, main rumput di padang savana lalu berakhir di warung Rujak Cingur paling ngehits di Surabaya.

Penting untuk punya list destinasi sebelum berangkat. Begitu juga dengan transportasi dan akomodasi, harus sudah jelas dan sudah dibooking di awal demi meminimalisir improvisasi.

Total jarak tempuh (sesuai trackingan GPS saya) untuk wisata kota Malang ini adalah 427 km, itu termasuk perjalanan wisata gunung Bromo. Lumayan panjang, tapi trip ini bisa selesai dalam 24 jam saja. Tiba di Surabaya pagi-pagi, dan sudah kembali ke Makassar besoknya (saya start dari Makassar sebagai base).

Wisata Malang Batu Bromo
Hasil tracking GPS Total Jarak Tempuh 427 Km

 

Kalau tripnya 24 jam, terus tidurnya bagaimana?

Karena ini judulnya ONE DAY TRIP maka semua resources (baca: duit) yang ada dimaksimalkan untuk perjalanan, bukan untuk nginap di penginapan atau check-in di hotel. Dan karena moda transportasi yang saya pilih adalah mobil (untuk trip ini saya tidak menyarankan naik motor demi memaksimalkan waktu) maka durasi perjalanan selama di dalam mobil adalah tempat dan waktu terbaik untuk tidur. Percayalah!

Fokus trip saya kali ini adalah DURASI. Jadi setiap destinasi punya setting waktu maksimal yang harus saya tepati sebelum berpindah ke destinasi berikutnya. Melanggar sedikit, maka saya harus rela mengorbankan durasi di pemberhentian berikutnya.

Iya sih, itinerary ini kurang cocok untuk wisata keluarga, apalagi kalau mau bawa anak-anak. Selain berpotensi bikin capek dan masuk angin, juga bakalan kurang puas main di destinasi wisata khususnya yang punya wahana bermain (meskipun defenisi ‘puas’ tiap orang berbeda-beda). Kalau mau wisata keluarga, idealnya sih, destinasinya dikurangi dan waktunya ditambah. Misalnya 3 hari 2 malam untuk destinasi sekitaran Kota Malang dan Kota Batu saja. Atau tambah 1 hari 1 malam untuk wisata gunung Bromo.

07:30 WIB Tiba di Surabaya

Saya sengaja cari penerbangan paling pagi ke Surabaya. Ini penting banget. Karena itu artinya saya punya waktu seharian yang bisa digunakan buat jalan-jalan. Ingat, ini judulnya ONE DAY TRIP.

Tiba di Surabaya pukul 7:30 pagi langsung menuju Malang dengan mobil travel. Sebaiknya sih sudah pesan duluan. Bisa via kenalan, atau booking online. Jadi tiba di bandara Juanda bisa langsung dijemput dan meluncur ke Malang. Harga sewa mobil plus sopir sekitar 300-400 ribu per 12 jam (belum termasuk BBM). Kalau mau sewa sampai 24 jam, tinggal negosiasi saja. Pilih yang paling affordable.

Jarak Surabaya-Malang adalah 102 Km. Karena rute Surabaya-Malang ini melewati lokasi bekas pengeboran minyak (baca: lumpur) di Sidoarjo, maka kurang afdol rasanya kalau tidak mampir dan melihat lumpur. Iya benar, ngelihat lumpur. Itupun bayar Rp 5000. Pagi-pagi saya sudah menyaksikan pemandangan yang bikin saya ‘kagum’ sama Indonesia. Cuma di Indonesia bisa lihat pemandangan tentang aktivitas pengeboran yang menyebabkan beberapa desa di Porong terendam lumpur dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Beberapa tahun kemudian disepakati menjadi bencana nasional. Inilah prasasti peragaan impunitas oleh pihak oknum terhadap rakyat yang kemudian di “setujui” baik oleh para aparat maupun komponen elite politik. Tapi mengingat saya ke sini untuk senang-senang dan bukan untuk ngedumel, saya putuskan melanjutkan perjalanan 15 menit kemudian.

Dalam perjalanan dari Sidoarjo ke Malang (yang ditempuh dalam 2 jam) saya menghemat energi dengan.. yak, tidur!

Meskipun tidur, saya tau pak sopir mutar lagu dangdut koplo sepanjang perjalanan. Pilihannya hanya dua: saya harus ikhlas dengar dangdut koplo atau si pak Sopir ngambek dan saya yang nyetir. Well, jadilah dangdut koplo jadi backsound kami sampai tiba di Kota Malang.

Wisata Kota Malang, Kota Yang Sejuk

Tiba di Malang, tujuan utama saya adalah jalan-jalan ke masa lalu. Iya, di Malang kita bisa menemukan banyak sekali tempat-tempat yang masih menyimpan cerita tentang masa perjuangan, kemerdekaan, bahkan pra kemerdekaan. Toko Oen, misalnya. Toko ini berlokasi dekat dengan Alun-Alun Kota Malang, patokannya adalah Gereja Katedral.  Memasuki toko Oen kita disambut dengan spanduk ucapan selamat datang di Malang dalam bahasa Belanda. Di bawahnya ada tulisan tahun dibukanya toko ini, yaitu tahun 1930. Nuansa tempo doeloe langsung kita rasakan setelah berada di dalam. Kursi-kursi rotan yang rendah dengan meja bundar dan bertaplak kotak-kotak adalah peninggalan masa lalu yang masih dipertahankan pemilik toko Oen. Menu andalannya adalah ES KRIM! Pas sekali sebagai pelepas dahaga selepas perjalanan dari Surabaya.

Toko Oen Malang

Mumpung dekat dengan Alun-Alun Kota Malang, sempatkan jalan-jalan ke sana. Alun-Alun Tugu Kota Malang sering juga disebut sebagai Alun-alun Bundar karena obviously memang berbentuk bundar. Dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda, alun-alun ini memiliki sebuah tugu. Tugu yang menjadi kebanggaan Kota Malang ini dulunya merupakan Taman Gubernur Jendral Hindia Belanda J.P. Zoen Coen. Di dalamnya ada taman berbunga yang sangat indah serta beberapa pohon Trembesi. Tepat di bawah tugu terdapat kolam yang penuh dengan bunga teratai yang sedang mekar. Konon kabarnya, kalau malam kolam air mancur ini akan berwarna-warni karena ada permainan lighting yang keren.

Alun Alun Kota Malang
Kira-kira seperti ini penampakan Alun-Alun Kota Malang di malam hari

Dari sana saya meluncur ke Museum Resto Inggil. Ini sebenarnya adalah warung makan yang punya desain interior unik. Isinya adalah benda-benda bersejarah. Lantainya masih ubin abu-abu yang dingin dan dindingnya semi permanen. Uniknya, mereka memasang foto Gunung Arjuno super besar di dinding dan membuat gubuk lesehan dari bambu. Jadi rasanya seperti makan di bawah kaki gunung Arjuno.

Begitu masuk, saya sudah disuguhkan pajangan topeng yang biasa dipakai oleh penari Topeng. Jumlahnya lusinan dan warna-warni. Lalu ada poster-poster jadul tentang iklan rokok dan bier zaman dulu dengan taglinenya yang unik-unik. Ada juga foto-foto gedung bersejarah di Malang, koleksi jam dan weker kuno, mesin tik dan telepon antik, koleksi mesin jahit kuno, radio jaman dulu, bahkan ada alat keriting rambut bermerk INDOLA yang berasal dari Belanda tahun 1930. Konon alat keriting rambut ini adalah pemberian dari Tante Tan (putri Ong Kian Bie Studio Malang).

Museum Resto Inggil Malang

 

 

Baca di sini untuk lanjutan cerita jalan-jalan saya di Kota Malang dan Batu

Bincang Ngeblog Bareng Blogfam

Jadi ceritanya, Blogger Family, salah satu komunitas blogger yang punya akun twitter @blogfam secara rutin mengadakan #BincangNgeblog dengan salah satu member Blogfam yang terpilih. Kategori pemilihannya berdasarkan kegantengan. Mereka yang kegantengannya tidak masuk spesifikasi akan dapat giliran duluan. Dan berhubung saya tidak ganteng, maka saya dengan akun twitter @mudzucha terpilih untuk mengisi #BincangNgeblog kali ini.

Karena ini adalah obrolan via twitter, maka obrolannya terbatas maksimal 160 karakter per satu kali reply. Obrolan berikut ini adalah hasil #BincangNgeblog bareng @blogfam.

blogfam

Selamat malam kk @mudzucha sedang berada di mana kah? 🙂 #BincangNgeblog acara kita sudah mau dibuka nih… 😀

  • malam Mimin.. Tadi lagi di jalan.

Mimin masih menunggu @mudzucha heueheueh

 

@mudzucha siap kaka? #BincangNgeblog 😀

  • Hehe.. Siap dong. Mimin siap? *ditabok*

Selamat malam kk @mudzucha welcome to #BincangNgeblog acara TeleTimeLine yg paling ngehits abad ini *kibas poni*

 

Apa kabar kk @mudzucha seharian ini nguapain aja? #BincangNgeblog

  • Masih seperti Senin yang sudah2. Ngantor dan nyuri2 tidur siang di mosholla.

Tapi senin juga happy kan, kk @mudzucha? #BincangNgeblog 😀 sudah update blog hari ini, kak?

  • Happy dong.. Nih buktinya lagi senyum2. Update blog sih belum. Ngedraft yang udah. Banyak.

Kk @mudzucha kenapa cuma draft aja? Banyak tulisan yg belum kelar? #BincangNgeblog

  • Hmm.. sebenarnya itu hobi sih. Apalagi klo sedang gada kerjaan. Login > new post > save as draft > logout. Gitu aja terus.

Haa? @mudzucha haha kk ini. Terus, kak, kapan terakhir update blog?

  • 2 minggu lalu. Itu juga krn ikut tantangan #8mingguNgeblog ide briliannya @paccarita. Cuma saya ikutnya 2 minggu sekali.

Kakak masih ikutan lomba 8 minggu ngeblog kak?

  • #8mingguNgeblog masih ikut. Tp ya itu.. Pesimis aja bisa menang. Orang sy ikutnya 2 minggu skali. Yg lain tulisannya keren2 pulak.

Oia, kapan kk @mudzucha mulai ngeblog? #BincangNgeblog

  • Mulai ngeblog akhir 2003 di blogspot. Beberapa kali ganti nama blog tp tetap blogspot. Feb 2004 beli domain yang sekarang.

Ahahah kk @mudzucha #BincangNgeblog Wow 2003! Blogger sepuh nih. So kk, postingan awal2 tentang apa?

  • Seperti biasanya blogger pemula, postingan narsis nan ajaib. themenya bikin sndiri pake html dgn karakter samuraiX di mana2. Haha..
  • Ih kok saya jadi grogi gini sih diwawancarai @blogfam #BincangNgeblog. *lap keringat*

Kk @mudzucha grogi karena mimin blum mandi? Wkwkwkkw #BincangNgeblog

  • Iya kali yah. Tapi saya biasanya grogi sama yg sudah mandi kok.. #apeuu

Hihihi kk @mudzucha dulu ngeblog temanya apa aja? #BincangNgeblog

  • Temanya sih absurd. Dari cerita kehidupan kostan di Manado, keputusasaan mahasiswa uzur gak lulus2 sampe tentang hobi2. Typical..

Dan kk @mudzucha juga menggalau di blog kala itu? #eh mimin kepo 😀 wkwkwkw

  • Hahaha.. Galau sih nggak. Mungkin krn waktu itu saya juga gak tau mau menggalau apa di blog. Meracau iya..

Kk @mudzucha wktu itu pakai ‘shoutbox’ kah? 😀 #BincangNgeblog

  • Iya pake shoutbox. Kan waktu itu lagi rame. Punya Doneeh klo gak salah.
  • Eh, Blog yg pake shoutbox emang sekarang masih ada ya?

Ehem @mudzucha selain yg Doneeh, kk juga kenal Haloscan kah? #BincangNgeblog

  • Oh iya haloscan juga. Pokoknya rame aja dulu shoutbox. Bs diubah tampilannya sesuai theme blog kita. Saut2an deh..

Kk @mudzucha banyakkah visitor blog kk kala itu? #BincangNgeblog bagaimana dg skrng?

  • Dulu teman2 yg sering blogwalking itu-itu aja. Sekarang jg gak banyak sih. Cuma lebih konsisten aja. Kebanyakan visitor nyasar malahan.

Postingan apa yang paling banyak pengunjungnya?

  • Janda Muda

Ha? Ceritain, donk kak! RT @mudzucha: Janda Muda

  • Isi postingannya nya sih tentang sms nyasar. Klo gak salah smsnya ‘Janda muda cantik. Cari pasangan hidup. Hanya yang serius.’

Hhh kk @mudzucha pernah got something from blog? Bisnis online misalnya? Or sumtin like that? #BincangNgeblog

  • Iya. Pasang adsense. Alhamdulillah adalah hasilnya meskipun dikit. Udah payment juga beberapa kali. Itu jg krn combine bbrp blog.

Wow kk @mudzucha itu jd inspirasi buat orang lain! Keren. #BincangNgeblog banyak yg gagal adsense loh 😀 oke lanjut…

  • Gagal adsense sih biasa. Ini aja domain utama barusan kena tilang lagi. Untungnya bisa komplain ke google dan di-enable lagi.

Iyah kk @mudzucha itu bs jadi pengalaman buat yg lain. #BincangNgeblog well, sering kopdar kala itu, kak?

  • Gak pernah blas. Soalnya sampai th 2011 sy masih di Manado. Dan wkt itu di Manado gak ada komunitas blogger yg eksis sprti skrg.

Hahaha kk @mudzucha baiklah. Kapan kk gabung sama Blogfam? #BincangNgeblog

  • Gabung blogfam tanggal 5 Maret 2004. Hebat yah bisa tau tanggal.. Ya iyalah, nyontek.. http://via.me/-bxa9sd4

Hahaha pasti tadi kk @mudzucha ke forum dulu *ngikik* #BincangNgeblog so kk diajak siapa tuh gabung ma Blogfam?

  • Gak diajak siapa2. Awalnya krn nyari teman sesama blogger. Jadilah browsing2 dan ketemu forum keren @blogfam. Dagang sate deh..

*ngikik* kk @mudzucha waktu gabung itu, bagaimana sambutan di Forum? #BincangNgeblog

  • sambutannya rame. Untung gak ada ospek2an. Sampe minder lah pokoknya. Isinya orang2 hebat semua soalnya.

Blogfam kan keluarga besar kk @mudzucha ospek gak berlaku :p #BincangNgeblog waktu gabung suka sama thread apa, kak?

  • Suka sama thread galery kreasi. Masih ada gak ya? Di situ sy belajar nulis yg benar. Skalian nyoba ikutan nulis cerfet.

Galeri Kreasi masih ada kk @mudzucha tapi diganti aja nama sub-forum nya. #BincangNgeblog yuk ke http://forum.blogfam.com lagi! 😀

 

Kk @mudzucha sering ikutan cerfet di forum? #BincangNgeblog sama siapa saja? Apa yg kk rasakan? Manfaatnya?

  • Iya pernah ikut. Sama @tuteh @amriltg @Sketsahati Sherly (UK) keroyokan cefet BH. Lalu ada 10 Things bla bla.. lalu ada lagi lupa.

Gimana rasanya ikutan Cerfet?

  • Rasanya ikut cerfet itu deg2an. Gak tau kelanjutannya sebelum tiba giliran. Dan klo sudah deadline, seperti maling dikeroyok massa.

Apa yg kk @mudzucha dapatkan dg ikutan cerfet? Ego terkendalikan atau ada yg lain? #BincangNgeblog

  • Manfaatnya banyak banget. Saya yg nulisnya amburadul bisa belajar dari para penulis hebat. Benar2 senang dan bangga.
  • Nih.. Signature saya aja pake tanda baca kacau balau gitu. Peninggalan awal gabung @blogfam tuh. #BincangNgeblog http://via.me/-bxc4mg0

Gabung begini lama dg blogfam, apa arti Blogfam bagi kk @mudzucha ? #BincangNgeblog

  • Arti blogfam? Komunitas blogger pertama saya. First love never dies kan? Besides, it’s not just a community. It’s a family.

Well kk @mudzucha apa manfaat terbesar ngeblog yg kk rasakan? #BincangNgeblog

  • With blogging, I can express anything in just few words. Bisa nambah teman, dan yg paling penting banyak baca banyak tau.

Lantas apa manfaat kk @mudzucha gabung sama Blogfam? Boleh dikredit satu2 kalau banyak. #BincangNgeblog

  • Manfaatnya banyak sih.. Bs tau klo blogging itu menyenangkan dr bnyk perspektif, bs belajar nulis, punya kenalan di mana2,
  • Manfaat lainnya bisa transaksi video Naruto bajakan di trit anime (lupa user penjualnya), tau cara ngutak ngatik blog juga.
  • Yg paling berkesan & gak terlupakan, diajak keliling Amsterdam sm mbak @Sketsahati yg ketemu pun belum pernah. Sampe dibuatin trit.

Ada lagi manfaat lain kk @mudzucha monggo… #BincangNgeblog

  • Hahaha.. Segitu dulu.

Baiklah kk @mudzucha ada lagi yg mau disampaikan di #BincangNgeblog ini? Silahkan kakak. Microphone is yours 😀

  • Blogging is passion. Dan hanya mereka yg punya passion yg akan bertahan. Tidak tergerus tren, tidak juga waktu. *balikin mic*

Baiklah kk @mudzucha terima kasih buanyaaaak atas waktunya di #BincangNgeblog malam ini…

  • Saya loh yg makasih.. Senang bisa ngobrol sama Mimin. Sukses terus @blogfam. #BincangNgeblog

Baiklah pemirsah #BincangNgeblog demikian acara kita malam ini bersama kakak @mudzucha yg baik dan ganteng. Mimin tagih mi titi lagi 😀

 

Bagi yg tidak sempat pantau #BincangNgeblog malam ini sabar yaaaa :)) akan ada rangkuman by mimin.

Tentang Budaya Tidur Siang di China

Jadi di kantor saya sekarang lagi rame dengan orang-orang China yang datang untuk mengerjakan proyek Dewa (yes, you hear what I say). Nah, orang-orang China ini, mereka tidak pernah meninggalkan tidur siang di jam istirahat kantor. Begitu masuk waktu istirahat, mereka akan segera makan siang dan kembali ke meja masing-masing untuk tidur. Iya tidur begitu saja, sandar di kursi atau rebah di atas kedua lengannya di meja. Ketika orang-orang sudah kembali dari istirahat, mereka pun bangun.

Tidur Siang

Teman-teman kantor banyak yang merasa risih dengan kelakuan mereka. Masa iya di kantor tidur. Itu juga tidurnya kadang sampe mendengkur. Belum lagi mereka sangat terekspos karena tidurnya di meja kerja, di antara orang yang lalu-lalang ke kubikal masing-masing. Maka demi menghindari orang-orang China ini diamuk karyawan lain, Saya yang memang pro tidur siang, akhirnya inisiatif menjelaskan ke teman-teman kalau tidur siang ini sebenarnya salah satu budaya China. Kita mengenalnya sebagai ‘power nap’.

Setelah saya menjelaskan panjang lebar, saya kemudian berusaha menghasut seisi kantor untuk mau rame-rame mengusulkan ke manajemen agar jam istirahat kita bisa diperpanjang dan tidur siang dilegalkan.

Tapi gagal.

Back in 2012, saya dan beberapa teman menuntut ilmu ke China. Ini sebenarnya aib karena bukannya belajar, saya malah suka sibuk menghafal rute subway Shenzhen yang terdiri dari 5 lines. Saya suka menghafal wajah Koh-Koh penjual barang elektronik di beberapa toko, mana yang jujur dan mana yang suka nipu (sumpah yah, Koh-Koh ini rasanya bisa saya jumpai di mana saja di berbagai penjuru mata angin). Dan saya sampe hafal bagaimana caranya mengakses barang-barang pasar gelap grosiran termasuk trik pengirimannya ke Indonesia untuk dijual lagi. Hahaha, aji mumpung.

Di hari-hari belajar, waktu istirahat kami adalah pukul 11:30 sampai pukul 14:00. Waktu yang sebenarnya sangat cukup untuk kabur dari kelas dan pergi berburu handphone replika. Ketika waktu istirahat tiba, ruang kelas akan ditutup. Lampu-lampu seisi gedung dimatikan. Semua orang diwajibkan kembali ke kamar masing-masing di asrama.

Awalnya saya tidak ngeh kalau waktu istirahat yang panjang itu adalah karena orang-orang memang disuruh tidur siang. Sampai akhirnya di suatu hari yang cerah, ketika saya lagi nyuci baju, saya ketemu dengan sesama penghuni asrama yang adalah orang China lokal dan juga pengin nyuci baju (mesin cuci memang cuma ada 1 di tiap asrama, yang lokasinya di lantai teratas dan biasanya jadi tempat ketemu-ketemuan). Sambil ngobrol-ngobrol menyombongkan negara masing-masing (meskipun obviously saya banyak kalahnya) dia nanya kenapa orang-orang Indonesia tidak tidur siang ketika jam istirahat. Lalu menyamakan kelakuan kami dengan beberapa orang Zimbabwe di asrama ini yang juga suka kelayapan. Rupanya kelakuan kami yang suka kelayapan di jam istirahat menjadi perhatian seisi asrama.

Komplain saya pertama, kenapa harus Zimbabwe? setelah itu baru saya tanya kenapa harus tidur siang kalau bisa buat kelayapan.

Lalu mulailah dia menjelaskan tentang Wu Jiao, kebiasaan tidur siang masyarakat China beberapa saat setelah makan siang. Kebiasaan ini justru lebih banyak dipraktekkan oleh kaum terpelajar China karena memang diajarkan ke siswa tingkat pendidikan dasar sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Dengan tidur siang, katanya, mereka akan tetap perform prima sampai sore. Dan kalau ternyata pekerjaan tidak bisa selesai sebelum waktunya, mereka masih tetap fit sampai malam di saat orang lain sudah mulai saturasi. Makes sense to me.

Wu Jiao

adalah aktifitas tidur di tengah hari oleh masyarakat China sebagai usaha memaksimalkan daya tangkap otak. Durasinya lebih pendek dari tidur normal (umumnya di bawah 30 menit) dan tidak sampai pada tahap deep sleep.

Saya cengengesan saja sok cool, padahal sebenarnya amazed. Mereka sampai memperhatikan hal sepele seperti tidur siang demi agar mereka tetap produktif selepas tengah hari.

Well, belakangan saya menemukan fakta bahwa ternyata tidur siang ini juga sangat dianjurkan di dalam Islam. Aktifitas power nap ini dikenal sebagai Qailulah atau tidur sejenak di siang hari. Bisa sebelum Sholat Dhuhur, atau setelahnya. Hasilnya adalah tubuh yang segar dan produktif ketika bangun. Lalu di daerah spanyol, ini dikenal sebagai Siesta, juga adalah aktifitas power nap di siang hari. Di daerah Sisilia, ini dikenal sebagai riposo. 

Sayangnya di Indonesia rasanya belum ada perusahaan yang menerapkan kebijakan untuk tidur siang. Alhasil, karyawan kantoran yang memang tidak terbiasa melihat orang yang tidur di kantor pasti bakal merasa aneh dan risih sendiri. Seringnya malah dikomentarin macam-macam. Dibilang tukang tidur lah, gak produktif lah, pemalas lah. Tapi kan performance kerja seseorang gak melulu dilihat dari apa dia sering tidur siang atau nggak. Balik lagi ke hasil kerjanya, lebih produktif atau tidak.

Di Indonesia, ada beberapa daerah yang masyarakatnya masih melestarikan budaya tidur siang ini. Misalnya di Gorontalo dan Lombok. Coba deh jalan-jalan ke sana. Ketika selepas tengah hari kota rasanya sepi kayak kota mati. Mau nyari makan aja biasanya ke warung itu-lagi-itu-lagi. Toko-toko mostly pada tutup karena pemiliknya istirahat tidur siang. Aktifitas baru kembali normal menjelang waktu sholat Ashar.

Saya sendiri, menilik manfaat dan tujuannya, sudah sering mempraktikkan power nap ini meskipun tidak sepenuhnya terlelap. Advice for a starter, carilah ruangan yang minim cahaya dan suara karena kedua faktor ini membantu untuk terlelap lebih cepat. Nah ini biasanya di Musholla selepas sholat Dhuhur. Ketika melakukan power nap, rileks sampai tertidur, tapi segera bangun tepat sebelum masuk ke fase deep sleep. Nah, susah jelasinnya. Kalau sudah terbiasa pasti ngerti deh.

Awalnya saya bisa bablas sampai lebih dari 30 menit kalau gak ada yang bangunin. Itu karena saya udah masuk ke deep-sleep, which is beneran tidur lelap dan nyeyak. Tapi karena sudah sering, saya sekarang malah bisa otomatis terbangun setelah 10 menit, bahkan sebelum jam istirahat berakhir.

So, akhirnya teman-teman kantor mengerti apa itu power nap, dan orang-orang China ini selamat dari amukan massa.

You too, should really have to try this. Seriously.