Tahun 2004 di Portugal, negara-negara adidaya sepakbola terbungkam. Siapa tidak kenal Inggris yang punya liga terbaik di dunia. Siapa pula yang peduli dengan Yunani? Tim dengan pemain kelas dua. Faktanya, di akhir hari turnamen, Yunani yang berdiri dengan kepala tegak.     “Lari ke arah luar kau! Jangan malah lari ke dalam. Bikin apa kau di sana kaya mesin giling, jangan kawe-kawe kalau bergerak! Pakai kakimu!” teriak coach Matur dari pinggir lapangan pada saya yang baru saja menerima bola passing. Saya berusaha menyembunyikan rasa letih. Namun dari luar, mereka yang bermain buruk sangat mudah terlihat. Sejatinya saya harus lari menggiring bola menyisir sisi kanan lapangan.Read More →