Mudzakkir on January 4th, 2010

Saya semakin tua. Seandainya time machine memang ada saya rasanya mau kembali ke masa lalu. Ada hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan saat itu dan sebaliknya. Dan dengan time machine yang sama saya akan kembali ke masa kini dan tetap menua. Faktanya, everybody grows old and time machine is just a wind blowing.

Not to mention the chit chat, tulisan ini sebenarnya adalah postingan yang tersimpan sebagai draft di blog saya tertanggal 12 Januari 2009. Dan bahwa sekarang adalah tahun 2010, artinya saya sudah menyimpan tulisan yang seharusnya saya publikasikan setahun yang lalu. Wow!

Dan tulisan ini tentu saja tentang petasan. Yang mana akan menjadi tidak relevan saat saya menulis judul dengan kata ‘petasan’ dan lalu saya membahas sunatan massal. Hampir setiap tahun di malam pergantian tahun di hampir semua tempat akan ada petasan atau kembang api atau apapun namanya yang mengeluarkan suara, cahaya, asap, dan bahan terbang (pesawat adam air yang jatuh di perairan sulawesi tidak termasuk petasan) yang sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang sangat mengganggu pikiran saya dengan beberapa pertanyaan.

Ok, ini faktanya :

Petasan adalah salah satu bahan peledak kimia berdaya ledak rendah yg ada sejak zaman kekaisaran Cina sampai sekarang. Sebelum kita mengenal lebih jauh tentang petasan, saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang apa itu bahan peledak kimia. Yaitu suatu rakitan yang terdiri atas bahan-bahan berbentuk padat atau cair atau campuran keduanya yang apabila terkena aksi, misalnya benturan, panas, dan gesekan dapat mengakibatkan bereaksi dengan kecepatan tinggi disertai terbentuknya gas-gas dan menimbulkan efek panas serta tekanan yang sangat tinggi. Bahan peledak kimia dibedakan menjadi dua macam, yaitu low explosive (daya ledak rendah) dan high explosive (daya ledak tinggi). Wikipedia

Dengan penjelasan panjang lebar dari om wiki, dan hasil survey di beberapa tempat pedagang petasan saya menyimpulkan bahwa petasan adalah sesuatu yang berharga dan bernilai. Dengan harga jual berkisar Rp 10.000 sampai 3 juta rupiah persetnya, petasan menjadi komoditas paling diminati menjelang tahun baru. Sampai saya (mulai sekarang kita sebut S) berbincang dengan salah seorang teman pemborong petasan (mulai sekarang kita sebut PP) di depan salah satu toko di Manado :

S : “Mau nyari petasan yang gimana lagi?”
PP : “Yang meletusnya gede kayak bom atom.”
S : “oke.”
Petasan akan menyebabkan orang mengalami kemunduran teknologi. Saat manusia sudah memasuki zaman nuklir, mereka masih berkutat pada bom atom.

Atau sikap berlebihan.
S : “Yuk, berangkat sekarang.”
PP : “Bentar. Nunggu petasan dulu.”
Kenyataan bahwa petasan adalah benda mati yang tidak bisa berjalan, membuatnya tidak pantas untuk ditunggu. Lalu kenapa menunggu?

Atau irrasionalisme.
PP : “AWAS! TUTUP TELINGA! Ini petasan gue yang paling nyaring!”
See? They are into irrationality. Petasan makin nyaring makin mahal, tapi menyebabkan pemilik petasan dan orang yang berada di radius ledakan harus tutup telinga, menjauh dan cukup melihat dengan mengintip dari sela2 jarinya. Kenapa gak beli yang ledakannya kecil aja biar puas dipelototin dan kalau perlu, dipeluk.

So, what’s not to question about this?

3 Responses to “PETASAN DAN BEBERAPA FAKTA YANG SANGAT MENGGANGGU”

  1. like this :)

    sebel bgt sm yg namanya petasan!

  2. emank……!!!! kecil aja bikin sakit telinga apalagi yang gede dah gitu pas lewat sengaja dilemparin ke arah qt….lari malah diketawain @-_-@

  3. Kau mo duluan peluk petasan deh….kikikiki

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You will be able to edit your comment after submitting.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.