Mudzakkir on April 30th, 2010

I’m a “non talking expressionist” type of man. So that I’m writing.

You will barely see me complaining or angry about something openly. I prefer to write it all in my blog. I can express joy, sadness, anxiety in just a few sentences.

I’ve been blogging since 2004, 2 years after the launch of the first blog engine (blogger.com). A little too late but then I’m happy with the fact that I write when most people would like the option to chat in a chat-room rather than having wasted the hours trying to write something when they are online.

I love reading and writing, two activities that supposed to be partnered. And I admire writers, simply because they deserve to be admired. It is not how you tell others about what you write, it’s how they address your writing. How people brought into your point of view. It’s just.. not easy. I know several friends who also love to write. They write anything, anytime. Yet they feel writing is not as easy as 1, 2, 3.. So if you feel the same feeling, I should tell that’s normal.

Sometimes you like to recall your life by any reason. And recalling your life is like watching somebody playing your role in the shadow. It is somehow disturbing, yes. But it is not, when you read your story of life written by yourself.

I live my life just like you do. I am as real as you are. I’m just a writer.

Mudzakkir on April 19th, 2010

Kenapa sih, banyak orang yang tidak begitu percaya diri dengan identitasnya? Di facebook atau twitter saya saja banyak yang tidak pakai nama asli. Malah ada yang nulis namanya dengan “Tidak Punya Nama” atau “Tidak Tahu Nulis Nama Apa” atau “Budi Anggota Genk Kapak Pelangi”

Dulu saya sering nonton acara streetball. Kebetulan di Indonesia ada yang mewadahi dengan even skala nasional. Pesertanya diseleksi dari tiap-tiap daerah perwakilan. Permainannya khas pebasket jalanan. Liar, cepat, atraktif dan menarik. Sempat juga saya nonton langsung waktu penyelenggaranya, LA Lights adakan acara streetball di sini. Tapi itu tidak cukup menarik perhatian saya. Yang menarik justru fakta bahwa hampir semua peserta streetball punya alias. Check this :

Vicky a.k.a Poison-V
Bayu a.k.a. Lunatic
Rico a.k.a. Spinboy
Tiko a.k.a Straight Basket
Ijal a.k.a Nightmare
Andika a.k.a Department of Defense
Bicek a.k.a Demolition
Roland a.k.a Anything U Need
You may find more here.

Wow.. wow.. No offence, guys. It sounds cool, it really does. Hanya saja, kenapa mesti pakai alias. Di satu sisi pastinya bermaksud untuk menonjolkan kelebihan, misalnya “departemen of defence” atau “demolition” yang tanpa perlu dicerna lebih banyak bisa menjelaskan kemampuan pemain ini, tapi di sisi lain justru menghilangkan jati diri yang sebenarnya. Entahlah bagi kalian, tapi bagi saya ini sangat konyol.

Penggunaan alias di streetball hanya berlaku di streetball. Lalu bagaimana seandainya ada pemain streetball yang juga bermain sepakbola, dan tennis, dan renang, dan karate, dan balap motor, dan catur. Kalau itu saya, mungkin alias saya akan seperti ini :

Mudzakkir a.k.a Ucha a.k.a. Speed a.k.a. Funtastic a.k.a. Straight a.k.a. Torpedo a.k.a. Hard a.k.a. The Proffessor a.k.a. Checkmate.

Wow.. Saya harus menghafal penempatan alias ini supaya tidak tertukar. Atau kenapa tidak kita sebut saja UCHA. Dan biarkan orang di seluruh dunia ini mengenal saya sebagai Ucha pemain streetball handal atau Ucha pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah atau Ucha perenang hebat atau Ucha pecatur cerdas. Dan menghindari munculnya pertanyaan seperti :

“Liat gak, yang juara MotoGP semalam? gila banget main di tikungannya.”
“Siapa?”
“The Professor..”
“Bukannya yang menang semalam si Checkmate?”

Lupakan alias, karena alias bukan identitas anda sebenarnya.

Mudzakkir on February 13th, 2010

Hari libur adalah hari yang paling tepat untuk bangun kesiangan, sarapan dengan santai, tidak perlu berpakaian rapi, tidak perlu bercermin, sisiran, bedakan, terhindar dari macet-macetan di jalan dan tidak perlu berurusan dengan anjing tetangga yang tiap pagi nangkring depan kompleks demi menebar horor pada semua orang yang melintas. Dan coba tebak, semua kengerian ini dimulai dengan mandi pagi.

Dan itulah kenapa aktifitas yang paling malas saya kerjakan di hari libur adalah mandi pagi. Dan oh ya, saya tidak bedakan.

Selain karena mandi pagi berarti menginterupsi jam tidur, mandi pagi juga berpotensi menjadi penyebab anda harus mengerjakan pekerjaan lain seperti mengantar titipan makanan ke tetangga atau ke toko buat beli minyak goreng.

A : “Cha, udah mandi?”
B : “Sudah.”
A : “Tolong anterin sup ini ke ibu Mira, dong.”

See?

They intensionally exploit you just because you have taken a bath.

Oke, tentu saja implikasinya adalah bau. Tapi dari sudut pandang saya yang dalam hal ini subyektif, bau adalah bagian yang juga tidak terpisahkan dengan hari libur. Bahwa sensasi mengistirahatkan diri sepenuhnya bisa diperoleh dengan menikmati aroma tubuh sebenarnya. Bukan aroma palsu seperti parfum atau aromaterapi. Ingat, anda sedang libur dan itu berarti waktu istirahat. Bagaimana mungkin anda bisa istirahat kalau waktu anda habis hanya untuk memasang aromaterapi di delapan penjuru mata angin dalam kamar?

Dan tidak mandi pagi sama sekali tidak merugikan anda. Anda tidak lantas tiba-tiba divonis mengidap rabies gara-gara lupa mandi pagi, kan?

Anda pasti pernah dengar slogan “save the water, save the earth”. Betapa anda akan dengan efektifnya mendukung program bumi ini dengan tidak membuang-buang air untuk mandi pagi. Kecuali tentu kalau anda mandi tidak dengan air.

Hari libur terlalu sayang kalau tidak dimaksimalkan untuk hal-hal yang lebih berguna daripada sekedar mandi pagi. 5 hari dalam sepekan sudah lebih dari cukup untuk menguras otak dan tenaga. Belum termasuk intrik dan segala tetek bengeknya yang berpotensi membotakkan beberapa bagian di kepala. Itulah mengapa akhir pekan dijadikan hari istirahat.

Saya tidak membrain-wash siapapun untuk tidak mandi pagi di hari libur demi menghindari melanggar RUU IT. Saya hanya memaparkan betapa tidak pentingnya mandi pagi di hari libur apalagi sampai menjadi ritual wajib. Dan jika setelah anda membaca tulisan ini masih merasa penting untuk mandi pagi di hari libur, pikir lagi.

Mudzakkir on January 20th, 2010

Akhirnya saya bisa blogging langsung lewat blackberry. Untuk yang perlu dengan aplikasinya langsung saja arahin browser blackberry anda ke http://blackberry.wordpress.org/install.

Bicara blackberry, perangkat smartphone ini sebenarnya saya beli karena benar-benar butuh. Setelah bertahan bertahun-tahun dengan ponsel tanpa koneksi data sambil ngumpulin duit, saya akhirnya mutusin beli smartphone ini. Dan voila, hampir semua pekerjaan dan kebutuhan informasi bisa saya lakuin dari blackberry secara realtime. Dan kebetulan saya manfaatin blackberry enterprise service untuk handle email2 kantor.

So, here I am again..

Mudzakkir on January 4th, 2010

Saya semakin tua. Seandainya time machine memang ada saya rasanya mau kembali ke masa lalu. Ada hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan saat itu dan sebaliknya. Dan dengan time machine yang sama saya akan kembali ke masa kini dan tetap menua. Faktanya, everybody grows old and time machine is just a wind blowing.

Not to mention the chit chat, tulisan ini sebenarnya adalah postingan yang tersimpan sebagai draft di blog saya tertanggal 12 Januari 2009. Dan bahwa sekarang adalah tahun 2010, artinya saya sudah menyimpan tulisan yang seharusnya saya publikasikan setahun yang lalu. Wow!

Dan tulisan ini tentu saja tentang petasan. Yang mana akan menjadi tidak relevan saat saya menulis judul dengan kata ‘petasan’ dan lalu saya membahas sunatan massal. Hampir setiap tahun di malam pergantian tahun di hampir semua tempat akan ada petasan atau kembang api atau apapun namanya yang mengeluarkan suara, cahaya, asap, dan bahan terbang (pesawat adam air yang jatuh di perairan sulawesi tidak termasuk petasan) yang sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang sangat mengganggu pikiran saya dengan beberapa pertanyaan.

Ok, ini faktanya :

Petasan adalah salah satu bahan peledak kimia berdaya ledak rendah yg ada sejak zaman kekaisaran Cina sampai sekarang. Sebelum kita mengenal lebih jauh tentang petasan, saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang apa itu bahan peledak kimia. Yaitu suatu rakitan yang terdiri atas bahan-bahan berbentuk padat atau cair atau campuran keduanya yang apabila terkena aksi, misalnya benturan, panas, dan gesekan dapat mengakibatkan bereaksi dengan kecepatan tinggi disertai terbentuknya gas-gas dan menimbulkan efek panas serta tekanan yang sangat tinggi. Bahan peledak kimia dibedakan menjadi dua macam, yaitu low explosive (daya ledak rendah) dan high explosive (daya ledak tinggi). Wikipedia

Dengan penjelasan panjang lebar dari om wiki, dan hasil survey di beberapa tempat pedagang petasan saya menyimpulkan bahwa petasan adalah sesuatu yang berharga dan bernilai. Dengan harga jual berkisar Rp 10.000 sampai 3 juta rupiah persetnya, petasan menjadi komoditas paling diminati menjelang tahun baru. Sampai saya (mulai sekarang kita sebut S) berbincang dengan salah seorang teman pemborong petasan (mulai sekarang kita sebut PP) di depan salah satu toko di Manado :

S : “Mau nyari petasan yang gimana lagi?”
PP : “Yang meletusnya gede kayak bom atom.”
S : “oke.”
Petasan akan menyebabkan orang mengalami kemunduran teknologi. Saat manusia sudah memasuki zaman nuklir, mereka masih berkutat pada bom atom.

Atau sikap berlebihan.
S : “Yuk, berangkat sekarang.”
PP : “Bentar. Nunggu petasan dulu.”
Kenyataan bahwa petasan adalah benda mati yang tidak bisa berjalan, membuatnya tidak pantas untuk ditunggu. Lalu kenapa menunggu?

Atau irrasionalisme.
PP : “AWAS! TUTUP TELINGA! Ini petasan gue yang paling nyaring!”
See? They are into irrationality. Petasan makin nyaring makin mahal, tapi menyebabkan pemilik petasan dan orang yang berada di radius ledakan harus tutup telinga, menjauh dan cukup melihat dengan mengintip dari sela2 jarinya. Kenapa gak beli yang ledakannya kecil aja biar puas dipelototin dan kalau perlu, dipeluk.

So, what’s not to question about this?