Blog Family

Ada Sisi Kanak-kanak pada Pria Dewasa

Sisi kanak-kanak

Boys will be boys. Begitulah, mungkin karena semua laki-laki dewasa adalah anak kecil pada awalnya. Kalau Anda perempuan, Anda mungkin kesal ketika pasangan Anda mendadak manja ketika sakit. Atau tiba-tiba melupakan Anda ketika asik main game. Coba tanyakan pada teman-teman wanita Anda yang lain, apakah mereka mengalami hal yang sama dengan pasangannya?

Ada banyak hal yang membuat laki-laki masih sering menunjukkan kekanak-kanakannya secara sadar maupun tidak. Untuk tulisan kali ini, saya mengajak Anda mengintip dari satu sisi yang paling jelas: hobi.

Sisi kanak-kanak

Laki-laki normal (saya sebut normal karena paragraf yang akan saya tulis ini tidak berlaku buat yang tidak normal) sebagai entitas superior atau merasa dirinya superior, punya kecenderungan untuk show-off. Jaga image, wibawa, menjaga prilaku, menunjukkan tanggung jawab, atau hal-hal “sangat laki-laki” lainnya terutama di depan pasangannya. Sifat kekanak-kanakan biasanya disembunyikan sekuat tenaga.

Beda dengan anak kecil. Anak kecil biasanya larut dalam apapun yang sedang mereka lakukan, terutama mainan. Mereka bermain dengan sangat total dan penuh penghayatan sampai-sampai mereka bisa menciptakan dunianya sendiri. Di dalamnya berisi semua hal yang diinginkannya dan tentu saja dirinya sendiri sebagai tokoh utama. Setting dan plot cerita dibuat sedemikian rupa demi mengeksplorasi si tokoh utama.

Saya punya banyak teman dengan hobi bermacam-macam: ada yang hobi membaca, mancing, hobi balapan tamiya, aeromodelling, fotografi, hobi modifikasi mobil sampai kolektor korek api. Jelas sekali, mereka sangat loyal dan royal demi hobi mereka. Kalau sedang menikmati hobinya, waktu seperti tidak berharga. Jangankan pekerjaan, istri saja bisa mereka nomor duakan demi hobi.

Kalau sudah soal hobi, kebanyakan laki-laki lebih antusias dibanding perempuan. Apalagi ketika untuk menjalankan hobi tersebut harus merogoh kantong dalam-dalam. Istilahnya kalau sudah suka, meskipun mahal, laki-laki tetap maju. Tapi kalau sudah mahal, meskipun suka, perempuan lebih memilih mundur. Bukan berarti perempuan tidak suka menghamburkan uang demi hobi, tapi biasanya perempuan lebih teliti dan waras untuk mengatur alokasi uang dibanding laki-laki. Dalam hal ini, perempuan terlihat lebih dewasa dalam bertindak dibanding laki-laki, bukan?

Ada yang lebih visual lagi. Coba perhatikan para pemuja hobi terutama laki-laki. Orang-orang ini seakan menjadi diri mereka sendiri ketika sedang menikmati hobinya. Mereka bisa tertawa lepas, marah, ngambek, sedih dan melepas semua superioritas mereka di hadapan orang lain. Antara atasan dan bawahan tidak terpisah oleh jaket dan jas. Lebih lagi kalau hobi si bapak sama persis dengan anaknya. Bapak dan anak ini bisa bertengkar seakan-akan mereka sebaya. Mereka menciptakan dunianya sendiri saat itu, persis seperti anak kecil yang sedang larut dengan mainannya.

Meski begitu, semua yang berlebihan biasanya tidak baik. Begitu juga dengan hobi. Ada kalanya hobi justru membawa masalah. Waktu untuk kumpul keluarga terabaikan, interaksi dengan tetangga terlewatkan, skala prioritas dilanggar hanya demi menikmati hobi yang mungkin menghabiskan waktu yang banyak di luar rumah.

Ketika sudah menyangkut hobi, sifat kekanak-kanakan seakan mendominasi bahkan pada laki-laki dewasa sekalipun. Laki-laki sangat posesif pada hobinya. Sempurnanya lagi, laki-laki cenderung mau menang sendiri. Nah, egoisme, posesif, mau menang sendiri, siapa lagi yang punya sifat seperti itu kalau bukan keponakan Anda yang masih balita?

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.