Bahagia Itu Sederhana

bahagia itu sederhana

Bahagia itu sederhana. Sesederhana siang, sesederhana malam.
Bahagia itu sederhana. Aku, kamu.
Bahagia itu sederhana. Memulai dari kosong, sendiri, mandiri.
Bahagia itu sederhana. Suap demi suap nasi putih sambil duduk bersila.
Bahagia itu sederhana. Mengejar nyamuk dengan sapu lidi, lalu tawa kita berderai.
Bahagia itu sederhana. Kudapan yang terlalu pedas, dan mentari senja di pinggir pantai.
Bahagia itu sederhana. Menyadari bahwa pakaian yang kuhadiahkan masih kebesaran untukmu.
Bahagia itu sederhana. Dimensi semesta antara kita. Dimensi jarak, ruang dan waktu.
Bahagia itu sederhana. Berbagi, dan melihat orang lain tersenyum bahagia.
Bahagia itu sederhana. Takbir hari raya, dan toples kue setengah kosong.
Bahagia itu sederhana. Aku imamnya. Kamu makmumnya.
Bahagia itu sederhana. Kehujanan, lalu berteduh depan warung kopi hingga malam.
Bahagia itu sederhana. Tangis bayi, darah dan air mata.
Bahagia itu sederhana. Kopi hitam, pisang goreng dan si kecil yang riang berlari di pekarangan.
Bahagia itu sederhana. menertawai kesok-tahuan kita pada makanan eropa yang serba hambar.
Bahagia itu sederhana. Cakrawala, ufuk dan kaki langit.
Bahagia itu sederhana. Mendengar lantunan hafalan Alqur’an pertama anak kita.
Bahagia itu sederhana. Saling menertawai rambut yang mulai memutih.
Bahagia itu sederhana. Tertatih menua meniti ruang kamar.
Bahagia itu sederhana. Sesederhana siang, sesederhana malam.

11 comments Add yours
  1. Pictnya unik sekali. Itu tangan Syifa dan Shofy kan? :))) bahagia itu sederhana, seperti memandangi tangan mungil mereka (Syifa dan Shofy)

  2. Alhamdulillah sangat sepakat, bahwa bahagia itu memang sangat sederhana. Hanya saja kita seringkali yang membuat menjadi rumit, karena mengukur kebahgiaan itu dari kaca mata orang lain, bukan dari apa yang lebih yang kita miliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.