Diving Traveling

Catatan Takabonerate Island Expedition IV 2012 – (2/2)

Magic Wall

Ada 4 kapal yang sandar di dermaga. Tiap kapal ini akan memuat 2 grup penyelam. Masing-masing grup berisi 5-7 orang dan dikawal oleh 1 orang dive guide. Total penyelam yang terdaftar pada Takabonerate Island Expedition IV tahun ini sekitar 50 orang. Matahari sudah mulai condong ke barat ketika kami semua siap di kapal masing-masing.

Kapal-kapal ini akan berangkat menuju lokasi penyelaman berbeda. Hari itu kapal kami menuju Magic-Wall point. Dari jauh tampak hamparan pantai berpasir putih dengan tebing kapur di belakangnya. 15 menit kemudian kami sudah tiba di titik penyelaman ini. Setelah briefing oleh dive guide, kami pun bergegas mengenakan alat selam. Dan BYUURR! dengan satu langkah giant-step saya sudah berada di atas air laut yang tenang tanpa ombak. Iya, tanpa ombak. Riak-riak kecil oleh hembusan angin terlalu berlebihan bila saya sebut ombak. Satu persatu kami melompat ke laut. Dan dengan satu aba-aba oleh dive guide, kami semua menyelam.

Magic Wall

Magic Wall, Selayar. (Photo: Ismadi)

Subhanallah, luar biasa indah! Saya tidak bisa berhenti mengagumi lansekap di hadapan saya. Mereka yang bawa kamera langsung sibuk jeprat-jepret. Ikan-ikan mungkin tidak peduli dengan kehadiran kami. Pelagis berukuran besar dan berkelompok melintas. Bump-headed Parrotfish, Barracuda ukuran sangat besar, Sea snakes, Sea turtles, dan gerombolan ikan-ikan lain sangat mudah ditemukan di spot ini. Dinding tebing berada di sisi kanan kami. Semakin dalam, pemandangan semakin mencengangkan. Suara gelembung yang terdengar dan pemandangan biru dramatis memberi nuansa yang tidak akan didapati di atas permukaan sana. Gua-gua kecil dan patahan menjadi tempat bermain biota laut yang luar biasa banyaknya.

Deco di Magic WallBunyi beep-beep terdengar beberapa kali. Awalnya saya pikir itu bunyi shutter kamera yang dipegang hampir semua penyelam di grup kami. Ternyata itu bunyi dive computer di tangan saya. Saya terlalu lama di kedalaman 30,9m. Sebagai kompensasinya, saya harus melakukan deep stop dilanjutkan dengan safety stop sesuai kalkulasi dive computer. Harus seperti itu, atau saya akan terkena decompression-sickness.

Sering saya dapati cerita dari banyak nelayan di pesisir, bahwa tidak sedikit dari mereka menderita lumpuh akibat sering menyelam, biasanya untuk mencari teripang. Yah, menyelam tradisional tentunya. Dengan tabung berisi udara dari kompresor dan menyelam tanpa kalkulasi kedalaman dan durasi. Beberapa malah mengait-ngaitkannya dengan mistis setempat. Saya katakan pada mereka bahwa menyelam adalah aktifitas yang aman bila dilakukan dengan benar. Menyelam, terutama menyelam rekreasi, bukan tentang seberapa dalam anda menyelam tapi tentang seberapa patuh anda pada prosedur penyelaman.

Kami hanya melakukan 2 kali penyelaman hari itu. Menjelang petang, saya sudah dalam perjalanan kembali ke kota Benteng. Pemandangan pesisir berpasir putih seakan tidak berujung. Matahari senja yang jelas terlihat di ujung horizon mengantar kami sepanjang perjalanan. Sesekali sinarnya menyelinap di rimbunan pohon kelapa yang kami lewati, lalu muncul kembali semakin kemerahan. Dan malam pun tiba.

House Reef Pantai Timur

House reef Selayar (Foto: Sumarjitho)

Tidur larut malam tidak membuat saya bangun kesiangan. Jam 5 subuh saya sudah siap dengan kejutan petualangan baru hari ini. Benar saja, hari ini kami akan menyelam di house reef tepat di depan Resort Jochen yang terkenal itu. Rintik hujan mulai turun tepat ketika kapal kami meninggalkan dermaga. Tiba-tiba adegan ini melambat, memunculkan perasaan paling bahagia: pagi hari, laut yang tenang dan rintik hujan. Sempurna.

House reef di Pantai Timur Selayar ini istimewa. Meskipun lebih landai, jumlah biota lautnya sangat beragam. Saya bisa mengidentifikasi beberapa biota makro di sini. Baru turun ke kedalaman 9 meter, saya sudah disapa gerombolan Cleaner Shrimp imut. Jangan tanyakan kondisi koral dan terumbunya. Semuanya luar biasa sehat. Dan sebelum kembali ke atas kapal, saya sempat mampir ke karang tempat para lobster besar berdiam.

****

Malam itu udara lebih lembab dibanding kemarin. Mungkin pertanda akan hujan. Rombongan lain termasuk teman-teman dari SAC Makassar sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ekspedisi esok hari. Mereka akan melanjutkan petualangan mereka ke pulau Tinabo, 5 jam perjalanan laut dari pulau Selayar, menghabiskan 3 hari menyaksikan festival rakyat dan parade keindahan ciptaan Tuhan di sana. Tidak dengan saya, perjalanan yang sangat menyenangkan ini akan segera berakhir. Saya mungkin kurang beruntung karena tidak bisa melanjutkan ekspedisi hingga selesai. Sendiri, besok saya harus pulang. Ada urusan yang lebih penting yang harus saya lakukan.

Every journey takes us back home. We just need to stay away for a moment to get back there.

Pagi berikutnya, dari balik jendela bis saya memandang lepas ke kota Benteng yang perlahan menjauh. Saya sudah dalam perjalanan kembali ke Makassar sendirian, membawa banyak cerita yang akan selalu menarik bila diceritakan ulang.

1 Comment

  1. I really want to go there. I know this dive site from my friends diver from germany. Hope to be able to dive with you when I’m there.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.