Family

Hindari Menyaksikan Persalinan Istri Anda

istri hamil

Saya pernah mengalami kejadian tragis dan mencekam yang sangat menyiksa, mengerikan bahkan memalukan. Sebut saja kejadian tragis di mana saya harus membersihkan toilet sekolahan gara-gara terlambat datang dan memutuskan memanjat pagar sekolah setinggi 2 meter untuk akhirnya kepergok guru BP yang kebetulan lewat tepat saat posisi saya sedang mengangkangi puncak pagar. Atau kejadian saya yang sadar bahwa dompet ketinggalan di penitipan barang beberapa saat sebelum saya tiba di meja kasir setelah harus ikut mengantri sangat panjang. Atau kehilangan tiket pesawat dan harus mencari ke tiga tempat terakhir yang saya datangi, di mana masing-masing berjarak tidak kurang dari 2 kali naik angkot sebelum akhirnya sadar bahwa tiket elektronik bisa diprint saja di bandara. Semuanya mencekam, karena kejadian-kejadian seperti itu biasanya membuat saya panik dan tidak bisa berpikir tenang.

istri hamil

Di atas semua kejadian itu, saya ngaku kalau tidak ada peristiwa lebih mencekam yang pernah saya rasa dibanding peristiwa semalam. Iya, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses persalinan istri saya dari A sampai Z (terlepas dari ada atau tidaknya proses persalinan berawalan huruf Z), dari erangan pertama sampai senyum lega. Tadinya saya tidak berani masuk ke ruang bersalin dan memutuskan untuk duduk menunggu di depan pintu saja sambil berdoa. Tapi setelah mempertimbangkan harga diri, akhirnya dengan gagah berani saya masuk berdiri di samping istri saya yang saat itu sedang kontraksi.

Saya dan istri memang hanya tinggal berdua di kota Manado. Tidak ada orangtua atau pun keluarga di kota ini. Munurut dokter, istri saya akan melahirkan pada pekan terakhir bulan Agustus. Saya pun mengatur tiket agar mertua saya bisa tiba di Manado sepekan sebelum istri saya melahirkan, yaitu minggu ketiga Agustus. Namun ternyata, peristiwa itu terjadi 2 pekan lebih awal.

Sebagai suami, saya harus menyembunyikan kepanikan di hadapan istri. Ini jelas tidak menguntungkan saya. Selain saya juga panik, saya sangat tidak mengerti dengan istilah-istilah dokter yang menjadikan saya lawan interaksi. Tadinya saya berlagak tenang, sambil meyakinkan ke istri bahwa semua baik-baik saja.

Saya bohong. Saya tidak baik-baik saja. Saat istri saya kontraksi di ruang bersalin, saya lemas sendirian di kamar pasien.

Singkat cerita, pada hari Ahad, 9 Agustus 2009/17 Sya’ban 1430H pukul 19:33 anak pertama kami lahir dengan selamat. Perempuan, lucu dan menggemaskan.

Saya dulu pernah bertanya ke Bapak kenapa saya diberi nama Mudzakkir. Kenapa bukan Tarzan, Superman, atau Robin Hood saja. Bapak bilang karena nama bisa menjadi sebab seseorang berperilaku sesuai makna namanya. Nama menjadi motivasi seseorang berbuat untuk hidupnya kalau ia tahu seberapa istimewa nama yang disandangnya. Simpelnya begini, kalau anda diberi nama Spiderman maka anda akan tersugesti untuk mempunyai dua kecendrungan dalam hidup. Mencari tempat yang nyaman untuk dipanjat, dan mencari tempat yang nyaman untuk mendarat. Atau kalau anda diberi nama Bush, anda juga akan cenderung punya dua motivasi. Bercita-cita menjadi presiden Amerika dan mencari negara-negara lemah sebagai tempat peluncuran rudal.

Jadi, saya tertarik sekali dengan seorang tokoh wanita zaman awal hijrah. Beliau wanita yang sangat cantik. Saking cantiknya, beliau dicemburui oleh wanita lain yang melihatnya. Meski begitu beliau sangat baik menjaga dirinya, sangat mulia, berakal dan baik agamanya. Beliau menjadi lambang yang tinggi dalam sejarah islam. Beliau wanita yang bersuamikan sebaik-baik manusia di bumi, Rasulullah Muhammad Sallallahu alihi wasallam. Beliau wafat sekitar tahun 50 Hijriyah, ketika ummat muslimin di tangan pemerintahan Muawiyah dan dimakamkan di Baqi’. Beliaulah Shofiyyah binti Huyay bin Akhthab bin Sa’ya dari cucu Al-Lawy bin Nabiyullah Israil bin Ishaq bin Ibrahim Alihissalam, dan termasuk juga dari garis keturunan Rasulullah Harun Alaihissalam. Dengan semua keindahan perangai beliau, anak saya langsung saya beri nama Shofiyyah. Semoga keteladanan beliau menjadi penuntun hidupmu, Nak.

Kembali ke kejadian tragis. Harus saya akui, menyaksikan proses lahiran itu memang sangat mencekam. Kepada suami-suami yang istrinya akan melahirkan, dengan ini saya sarankan pastikan anda punya alibi yang kuat dan tepat untuk menghindari kemungkinan anda harus mendampingi istri anda saat lahiran. Selain bisa menyebabkan mata pening, badan lemas, gemetaran dan panas dingin, anda juga bisa menjadi korban istri anda yang tanpa sadar mencengkeram tanpa ampun tangan, leher dan kepala anda kapan saja istri anda kontraksi. Ini berbahaya buat anda, karena anda akan tercekat kehabisan nafas sebelum istri anda sadar apa yang baru saja dia lakukan terhadap anda. Tapi kalau anda merasa sebagai suami yang baik, jangan ikuti saran saya.

RSB Permata Bunda, 10 Agustus 2009.

19 Comments

  1. Doh Cha… aku ngebacanya ngerasa lucu…. Gak bisa kubayangin kalo pas aku persalinan, apa bojoku mau nemenin kalo dia baca ini hahahaha…
    Anyway, selamat yah buat kelahiran putrimu! Aku turut berbahagia πŸ™‚

    Scrapbook itu semacam cara utk menyimpan kenangan2 plus foto2 hehehe… Ya semacam mendesign lah πŸ™‚

  2. Pertamanya!!!!! Hehehehe… Buat Ucha dan Istri… selamat ya atas kelahiran Putri pertamanya. Semoga jadi anak yang solehah… aku mo nyusul Ucha ah πŸ˜€ pengen jadi Bunda hehehe.
    Sekali lagi, selamat ya, Cha! Salam buat keluarga πŸ™‚

  3. Barakallahu ya Cha & istri atas kehadiran Princess Shofiyyah. semoga sehat dan bahagia selalu. jadi anak yang cerdas dan menjadi cahaya dalam keluarga, amin

  4. Subhanallah.. selamat ya… πŸ™‚ semoga Shofiyah menjadi anak yang baik, sesuai nama nya… πŸ™‚
    salam.

  5. dan g akan ada moment yg paling bahagia, sedih dan berhrg pasti selain nemenin istri melahirkan, mengadzankan anak… aQ jd terharu sendiri..hikz..hehee…selamat y atas kelahiran anaknya, dan salut buat pasangan ini dech.. πŸ˜€

  6. ‘like’ this posting..

    ingartkan saya kalo ntar punya anak perempuan akan saya namai dengan nama yg sama.. πŸ˜€

    tapi rada ga ngerti ttg jatah bmakan malam dan belnaja bulanan???…

    hehehe

  7. eh.. lupa..

    selamat yaahhh

    semoga, amin.

  8. udah siapin nama? πŸ˜€

  9. dari dua anak saya, semua persalinan saya saksikan, perasaan yang bahagia campur haru, dan itu membuat kita teringat sama ibu kita yg berjuang untuk melahirkan kita,…Ya Allah ampuni aku..

  10. hohoohoo dah punya anak yah ca? selamat dong!!
    jangan lupa ajarin winning elepen biar ga kalahan kayak bapaknya…

  11. Waaah hampir. Untung istri ta’ masih berpikir logis di’.
    Ada orang yg berantakan ruang tamunya diporakporandai istrinya gara2 isu suaminya selingkuh, padahal tidak ji. Sekarang malah sudah cerai. Na’udzu billah.

    Pelajaran di’ untuk hati2 sama SMS …

  12. Ahahaha salah komen …. itu komen untuk tulisan JANDA CANTIK πŸ˜€
    Ternyata suamiku ikut baca sehabisa saya, saya tinggalkan dan dia buka yg ini .. saya PD saja komen di sini πŸ˜€

  13. Oya, ini komen yang cocok:

    Tiga kali melahirkan, alhamdulillah suamiku mendampingi dari A-Z juga (maaf ya, istilahnya sy pinjam). Betul2 support yang sangat berarti buat saya. Alhamdulillah ia rela dicengkeram di sana sini, bahkan waktu kelahiran anak pertama sampai2 lehernya jadi korban #koq bisa ya hehehe … ^__^

  14. Hahaha, aku jadi ingat saat melahirkan Shasa dulu. Habis deh lengan suamiku aku genggam sekuat tenaga sampai tanpa sadar kuku jari tanganku meninggalkan bekas yang lumayan banyak di pergelangan tangan suamiku hehehe

  15. Terimakasih sudah berkunjung di blog saya.

    Waktu anak saya lahir dulu saya malah sudah nyiapin handycam segala. Maunya direkam. Tapi setelah melihat istri kesakitan, ngrekamnya saya batalkan. Gak tega. Mosok orang kesakitan kok direkam.

    AKhirnya saya cuma ngejogrog di tepi tempat tidur, nungguin istri. Sebenanya saya gak punya nyali, cuma waktu mau ninggal kok rasanya gak adil. Saya kan punya andil bikin istri kesakitan, kok nungguin saja gak mau. Akhirnya saya paksakan juga menemani sampai anak lahir.

    Memang bener yang Anda bilang, saya juga kebagian sakit. Tangan dipelintir, dicakar, rambut kena jambak, hidung dipothes, kuping diremet-remet. Bekas tancapan kuku di mana-mana. Pokoknya KDRT komplit.

    Kalau saja kami bisa punya anak lagi, pasti saya akan tungguin lagi. Sayang, setelah keguguran anak kedua, istri gak boleh hamil lagi.

    Tapi sekarang saya jadi bidan kucing. Bnyak kucing tetangga yang suka melahirkan di rumah saya. Setelah selesai nolong, rasanya gimana gitu. Manteb.

  16. jangan dong….kasian istri kalau gak ditemani…

  17. “Bapak bilang karena nama bisa menjadi sebab seseorang berperilaku sesuai makna namanya” yah saya menyakini kalimat ini. Selamat Kak Ucha πŸ™‚

  18. Hehe lucu baca ini. Tapi bener loh buat para calon ayah yang tidak kuat kalau lihat, bakal ada efeknya. Kata ibu bidan yang mengajarkan senam hamil, bahkan bisa membuat lelaki impoten kalau tidak kuat, wallahu’alam.

  19. wah..baru menyaksikan persalinan saja udah terasa mencekam dan tragis.. gak kebayang kan mas gimana rasa nya istri anda mengalami persalinan itu sendiri… tidak lah sebera sakit dari cengkraman seorang istri pada suami saat kontraksi, dibanding merasakan dahsyatnya rasa sakit persalinan itu…
    #peace…;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.