Blog

Jadwal Olahraga yang Baik dan Benar

runners-legs

Saya mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang punya jadwal olahraga rutin tapi gak bisa jaga komitmen. Meskipun jadwalnya sudah ditulis besar-besar dan ditempel di kamar tapi kalau memang lagi malas, ya malas aja. Sebenarnya seminggu sekali saya sudah punya jadwal futsal bareng teman-teman kantor. Lalu di hari yang lain ada badminton, juga dengan teman-teman kantor. Persoalannya adalah, entah mengapa kalau sudah menyangkut jadwal futsal atau badminton ini kami bisa sangat kompak. Ketika salah seorang dari kami ada yang tidak bisa hadir, maka yang lain juga jadi malas untuk hadir (meskipun sebenarnya gak akan pengaruh apa-apa kalau ada 1 atau 2 orang yang gak ikut).

Nah, balik ke jadwal olahraga. Jadi ceritanya, setelah saya bersih-bersih kamar seminggu yang lalu, salah satu barang yang berhasil saya temukan adalah running shoes atau sepatu lari, yaitu sepatu yang khusus digunakan untuk.. berlari. Tertimbun di bawah tumpukan kardus buku, tersembunyi di samping lemari, dan terkamuflase dengan baik oleh beberapa rongsokan. Kondisinya masih sangat prima -Karena memang cuma dipakai sekali.

runners-legs

Ketika saya menemukan kembali sepatu ini, rasanya seperti.. hampa.

Iya, hampa. Seperti orang yang sedang berusaha membayangkan kejayaan masa lalu tapi gagal.

Saya ingat betul waktu itu, ketika olahraga lari menjadi semacam trend. Car-free day bermunculan di mana-mana. Orang-orang antusias posting foto trackingan GPS dari endomondo, Nike Run dan sebagainya. Atau ketika ada event lari 5K, 10K atau marathon, biasanya juga bakal ada foto-foto mereka di garis start (dan beberapa orang di garis finish).

Saya juga jadi kepengin ikutan olahraga lari. Mumpung lari rame-ramenya dan pastinya akan banyak teman. Maka jadilah saya hunting sepatu lari yang murah (dan keren). Terus terang ini agak susah. Karena sepatu yang murah biasanya tingkat ke-kerenan-nya sudah terkoreksi.

Maka tibalah hari ketika sepatu itu akan saya pakai pertama kali. Bukan di event Car-free Day, bukan di event lari 10K. Hari itu adalah Sabtu subuh yang gerimis ketika orang-orang normal lebih memilih melanjutkan tidur, saya sudah siap di pinggir lapangan sepakbola dengan antusias.

Rencana mulia saya hari itu adalah: lari keliling lapangan sepak bola.

Tadinya saya merasa wajar saja sepagi itu track lari masih kosong karena memang masih subuh. Tapi ternyata saya salah. Track lari hari itu sepi karena memang gerimis gak berhenti dari semalam. Belum juga saya mulai lari putaran pertama, hujan yang tadinya gerimis ternyata malah makin deras. Bahkan sampai matahari sudah terang, hujannya tetap awet gak berhenti-berhenti. Yang terjadi selanjutnya adalah adegan seseorang yang berdiri di sudut lapangan, menatap nanar ke track lari yang basah tergenang air, sambil berteduh di bawah kanopi.

Saya sudah gagal lari di percobaan pertama.

Setelah itu saya gak pernah lari lagi.

Ternyata untuk urusan olahraga, menjaga komitmen itu susah sekali. Jadwal olahraga cuma sekadar jadwal. Tapi yaah.. daripada gak ada jadwal sama sekali, mendingan punya jadwal dong. Setidaknya dengan lihat jadwal olahraga aja bisa tersugesti untuk merasa sehat.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.