Saya Gak Rela Jadi Korban Toilet Umum

lokasi: Toilet umum salah satu mall di Manado.
Waktu: Sore, menjelang malam.

Tentu saja saya sedang buang air, masa lagi berendam. Waktu itu saya pengen buang air kecil dan urinoir sedang penuh terpakai semua. Jadilah saya memutuskan buang air kecil dalam salah satu kamar WCnya. Waktu sudah di dalam, tiba-tiba dari kamar WC sebelah terdengar suara khas orang lagi buang air besar. Bukan suara orangnya, tapi suara efek yang dihasilkan.

Saya akhirnya harus mendengarkan efek suara itu selama saya buang air kecil. Arrghh.. tentu saja sangat mengganggu kenikmatan buang air kecil. Efek suara ini juga pakai alur maju-mundur. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang diam, eh tiba-tiba cepat lagi. Dan baunya.. Oh, tentu saja berbanding lurus dengan suaranya.

Meskipun dirugikan secara kejiwaan, saya pasrah saja. Tapi masalahnya bukan itu. Begitu saya keluar dari kamar wc untuk cuci tangan di wastafel, semua orang yang saat itu juga berada di toilet memandang penuh curiga ke arah saya. Sebagian ada yang dengan vulgarnya langsung mengarahkan pandangan ke arah pantat saya, masih dengan tatapan penuh curiga. Ada juga yang sudah langsung nyelutuk ke temannya, “abis makang orang sto ngana kang? (habis makan orang kamu yah?)” dengan tatapan juga tetap ke arah pantat. Di sini letak masalahnya.

Sebelum saya sempat menjawab bahwa itu bukan saya, semuanya langsung ngeloyor keluar toilet dengan kesimpulan bahwa mereka baru saja melihat orang gila yang baru habis boker dengan gegap gempita.

Saya hanya bisa diam di tempat. Pengennya sih protes. Tapi berhubung saya sadar bahwa ini adalah mall, dengan tingkat probabilitas menemukan kembali orang-orang yang tadi memandang nista ke pantat saya di toilet adalah sangat kecil, saya akhirnya tidak bisa mengkonfirmasi ke mereka kalau itu bukan saya.

Gondoknya lagi, orang di dalam wc, si pelaku yang menyebabkan saya difitnah dan dinistakan tadi malah ngomong gini, “tenang aja mas, gak ada yang kenal mas ini..”

Cumi juga ni orang, bukannya bilang terimakasih ke saya malah ngasi sugesti. Tapi demi tidak memperkeruh suasana hati saya hanya bisa bilang, “iya mas. Makasih.”

Dan tanpa rasa bersalah dia jawab, “sama-sama..”

Saya curiga dia pasti masih dalam posisi jongkok waktu ngomong gitu ke saya.

25 comments Add yours
  1. Hehehe, lucu banget ceritanya. Ini kisah nyata kah?

    Pasang muka ga bersalah alias cuek aja Bos, toh bukan kita yang melakukannya. Kalau pandangan orang-orang terasa aneh dan kita justru terpengaruh lalu ‘merasa kikuk’ dan akhirnya terlihat seperti orang yang bersalah. Cuek aja diliatin orang-orang, pura-pura ga ngerti maksudnya orang-orang.

  2. Huahahahahaha….

    Aku ikut berbela sungkawa atas posisi dan keadaanmu saat itu sobat,,, huakakakakkakak … *sory bro,ketawa mlulu nich ngebayangin kondisi seperti itu πŸ˜€ ckckckck ..

    Tapi aku saranin kalau besok kejadian lagi seperti itu… itu semua yg nglirik aneh dan curiga ke Ucha atau malahan ada yg ngatain itu, Langsung kasih tau aja kedalam darimana sumber bau itu, Huakakakakak …. πŸ˜€

    Salam Bro πŸ˜€ ada2 aja nich πŸ™‚

  3. Sudah lach jangan terlalu trauma atas musibah itu Hahahahahahhahaa …

    Ayo posting posting posting posting πŸ˜€ ckckckck *Provokator nich gue πŸ˜€ ehm …

    Peace Bro πŸ˜€

    Salam πŸ™‚

  4. hihihihi…
    sabar mas, bayangkan kalau kita ada di posisi ‘si jongkok’ itu. mungkin kita juga akan nunggu aman, baru keluar dari bilik pelega. hehe

  5. Hwakakakak abis2an tuh πŸ˜€
    Btw kalo ke jkt ato ke kota besar, aku sangat2 butuh kamar mandi umum, Cha…jadi aku selalu berusaha sopan hwakakakak *maksud lho, teh?* πŸ˜€ hwakakakak… piss piss πŸ˜€
    Happy wiken, Cha… salam buat maitua πŸ˜›

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.