Sarwed, seorang kawan dari India mengabarkan bahwa dia sedang di Indonesia. Sarwed seorang pekerja jaringan telekomunikasi yang sedang bekerja sebagai karyawan sebuah operator di Singapura dan mencoba menghabiskan akhir pekannya di Manado. Sebagai sesama Telecom Engineer yang sering diskusi di sebuah forum online, saya menyempatkan diri untuk bertemu dan berbagi cerita. “How’s your life?” tanya saya sambil memesan kopi. Seperti obrolan-obrolan sebelumnya dari setiap kawan sesama Telecom Engineer dari belahan bumi lain, jawaban yang saya dengar tentang kehidupan mereka selalu sama. Mereka menganggap diri mereka adalah ironi, sebagai pekerja keras yang tangguh, ulet, rajin dan sangat total sampai-sampai mereka tidak tahu bahwa ada kehidupan lainRead More →

Ayam kampus sering dikonotasikan sebagai pelaku ‘begituan’ sebagai pekerjaan di samping statusnya sebagai mahasiswi. Hampir semua orang yang mendengar kata ayam kampus langsung paham dengan konotasi ini. Entah dari mana istilah ini berasal, ayam kampus seakan menjadi bunga-bunga sekaligus aib bagi Universitas tempat mereka kuliah. Tulisan ini bukan tentang ayam kampus bertanda kutip. Ini tentang ayam kampus tanpa tanda kutip. Ayam kampung, dipotong, dibakar atau digoreng, dan dijual di warung makan beberapa meter dari salah satu universitas negeri di kota Manado. Saya dan teman-teman lebih suka menyebutnya ayam kampus Manado. Untuk bisa menemukan ayam kampus di Manado pun tidak mudah. Kebanyakan warung-warung yang ada hanyaRead More →

Boys will be boys. Begitulah, mungkin karena semua laki-laki dewasa adalah anak kecil pada awalnya. Kalau Anda perempuan, Anda mungkin kesal ketika pasangan Anda mendadak manja ketika sakit. Atau tiba-tiba melupakan Anda ketika asik main game. Coba tanyakan pada teman-teman wanita Anda yang lain, apakah mereka mengalami hal yang sama dengan pasangannya? Ada banyak hal yang membuat laki-laki masih sering menunjukkan kekanak-kanakannya secara sadar maupun tidak. Untuk tulisan kali ini, saya mengajak Anda mengintip dari satu sisi yang paling jelas: hobi. Laki-laki normal (saya sebut normal karena paragraf yang akan saya tulis ini tidak berlaku buat yang tidak normal) sebagai entitas superior atau merasa dirinyaRead More →

Camera : Sony NEX 5N Lens : Sony E 18-55mm f/3.5-5.6 OSS Tecnical : 10s, f/11 Original Date : 1 January 2014 Ini malam tahun baru saya yang ke sembilan di kota Manado. Dan seperti yang sudah-sudah, saya hanya menyaksikannya dari atap gedung kantor. Ada pekerjaan yang selalu menjadi sangat penting di saat-saat seperti ini. Dari atas sini saya seakan bisa melihat semua di bawah sana. Anak kecil yang sibuk menyiapkan petasan, kemacetan yang luar biasa, pasangan anak muda yang berciuman. Semuanya bergerak perlahan-perlahan dan berakhir menjelang dini hari. Lalu selesai begitu saja.Read More →

Saya sedang bersiap untuk jadual kerja malam. Beberapa hari ini divisi tempat saya bekerja memang sedang dalam puncak kesibukan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 ketika saya memutuskan untuk mampir di sebuah warung coto Makassar di jalan Pettarani. Makan malam yang sudah terlambat. Di depan warung coto yang sudah mulai sepi, duduk seorang ibu berusia sekitar 40an. Di pangkuannya tertidur seorang bayi dengan pakaian yang tidak cukup melindungi tubuhnya dari dingin kota Makassar yang agak gerimis. Di depannya, sebuah kaleng cat bekas yang kosong diletakkan begitu saja. Ibu dan bayi ini adalah tipikal pengemis jalanan yang sudah marak di kota ini. Satu persatu pengunjung warung cotoRead More →

Ini bukan tentang harta dan tahta, bukan tentang kepantasan, lebih tua, seumuran atau lebih muda. Ini tentang yang menyeimbangkan hidup dan yang bisa berjalan beriringan. Yang memberi kedamaian di hati, kenyamanan di sisi dan kasih sayang tiada henti. Tentang tertawa bersama, saling mendukung, mendoakan satu sama lain, berbicara lepas tak terbatas tanpa berpikir pantas atau tidak. Ini tentang cinta. Tentang memberi tanpa meminta. Ketika dunia begitu kejam, dia menjadi tempatmu untuk selalu pulang. Dia yang bisa membuatmu sangat sabar dan berusaha mengerti meski sulit. Menerimamu apa adanya meskipun kamu cuma seadanya. Masa lalunya tidak kamu persoalkan karena tahu itu yang membentuknya menjadi seperti sekarang. KekuranganRead More →

Hari raya Idul Adha identik dengan pelaksanaan penyembelihan hewan qurban. Tahun ini saya kembali ditunjuk sebagai panitia pelaksanaan qurban di kantor. Meskipun menjadi panitia, satu hal yang paling susah saya lakukan adalah meyakinkan orang-orang di bagian penyembelihan bahwa proses merebahkan sapi qurban itu sangat mudah. Selain karena orang-orang ini merasa sangat berpengalaman dalam hal jagal-menjagal sapi, mereka juga tidak bisa menerima begitu saja metode merebahkan sapi yang saya sampaikan. Lagipula mereka mungkin berpikir siapa saya bisa merebahkan sapi yang beratnya 2-3 kali berat badan saya yang kecil ini. Biasanya, petugas jagal ini harus mengeroyok sapi qurban agar bisa dirobohkan. umumnya ini dilakukan oleh 3-4 orangRead More →

Writer’s block is a condition, primarily associated with writing as a profession, in which an author loses the ability to produce new work (Wikipedia). Bagi sebagian blogger, mengupdate blog dengan konten adalah hobi. Bermutu atau tidak, asli atau mengutip, panjang atau ringkas, tidak lebih sebagai tempat menumpahkan ide, pujian, hujatan atau sekedar menunjukkan eksistensi di dunia maya. Bagi sebagian yang lain, blogger adalah profesi sehingga aktifitas menulis menjadi sumber penghasilan. Entah sebagai citizen reporter, memasarkan produk atau sebagai publisher. Membuat tulisan di blog adalah esensi dari menjadi seorang blogger. Anggap saja di titik ini kita sependapat. Saya berada di posisi pertama: menulis sebagai hobi. MenulisRead More →

Jika anak dibesarkan dengan kritik, mereka belajar mengutuk. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, mereka belajar melawan. Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan. Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, mereka belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan ejekan, mereka belajar kehilangan kepercayaan diri. Jika anak dibesarkan dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri. Jika anak dibesarkan dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, mereka belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, mereka belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, mereka belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, mereka belajar untuk mencintai. Jika anak dibesarkanRead More →

Tahun 2004 di Portugal, negara-negara adidaya sepakbola terbungkam. Siapa tidak kenal Inggris yang punya liga terbaik di dunia. Siapa pula yang peduli dengan Yunani? Tim dengan pemain kelas dua. Faktanya, di akhir hari turnamen, Yunani yang berdiri dengan kepala tegak.     “Lari ke arah luar kau! Jangan malah lari ke dalam. Bikin apa kau di sana kaya mesin giling, jangan kawe-kawe kalau bergerak! Pakai kakimu!” teriak coach Matur dari pinggir lapangan pada saya yang baru saja menerima bola passing. Saya berusaha menyembunyikan rasa letih. Namun dari luar, mereka yang bermain buruk sangat mudah terlihat. Sejatinya saya harus lari menggiring bola menyisir sisi kanan lapangan.Read More →