Blog Family

The Power of Kepepet

DEADLINE

DEADLINE

Saya sering mendengar dan membaca banyak sumber inspirasi dan motivasi dari orang-orang terkenal. Kebanyakan mereka berbicara mengenai pengembangan potensi diri. Kemarin, saya baru saja mengalami secara nyata apa yang disebut oleh motivator Jaya Setiabudi sebagai THE POWER OF KEPEPET.

Pak Jaya menceritakan kisah-kisah inspirasional dalam bukunya THE POWER OF KEPEPET. Salah satunya sebagai berikut:

“Seandainya sekarang anda tidak memiliki uang tabungan, penghasilan pun kurang dari 1 juta sebulan. Apakah anda bisa mendapatkan uang 5 juta jam 9 pagi esok hari?” Saat saya menanyakan pertanyaan ini kepada peserta seminar, hampir semua menjawab, Tidak Bisa.

Kenapa? Karena mereka mengukur kemampuannya berdasarkan kondisi normal mereka. Dengan penghasilan 1 juta perbulan, jika savingnya 200 ribu perbulan, maka butuh 50 bulan untuk mendapatkan 5 juta.

Bagaimana jika pertanyaan saya ubah? Seandainya, malam hari ini, orang yang paling Anda sayangi, mendadak sakit keras. Dokter mendiagnosa ada sebuah tumor ganas yang harus dioperasi esok pagi. Jika tidak, maka (maaf) nyawanya akan melayang. Sedangkan operasi hanya bisa dilaksanakan jika anda menyerahkan uang tunai sejumlah 5 juta rupiah sebelum jam 9 esok hari. Bagaimana? Apakah anda masih akan mengatakan tidak bisa? Mayoritas akan menjawab, “harus bisa.” Kenapa? Karena KEPEPET. jika tidak, nyawa orang yang kita cintai mungkin bisa melayang.

——

Nah, kembali ke cerita saya. Hari itu adalah hari ketiga setelah Idul Fitri tahun ini. Baru saja selesai sholat subuh berjamaah, kami dihebohkan dengan teriakan kebakaran salah satu jamaah masjid. Langsung saja kami semua berhamburan menuju TKP yang letaknya hanya 2 rumah dari masjid. Saat itu api sudah melahap lebih dari setengah bangunan rumah yang diduga sebagai tempat sumber api. Reaksi saya pertama kali adalah: kagum. Api yang saya lihat saat itu adalah yang terbesar sejauh ini. Warnanya luar biasa indah. Merah, diselingi warna hijau, lalu ungu, lalu biru. Belum lagi suara letusan yang terdengar. Lebih natural dibanding suara petasan yang selama Ramadhan kemarin sering saya dengar. Reaksi kedua saya adalah: panik. Agak terlambat, karena saat saya baru mau panik, orang lain baru saja selesai dari paniknya.

THE POWER OF KEPEPET

Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan rumah yang sedang terbakar ini. Selain karena intensitas api sangat dahsyat, api juga sudah melahap lebih dari separuh bangunan. Selain itu sumber air tidak cukup banyak. Yang melegakan, saat itu di dalam rumah tidak ada penghuni karena sedang mudik. Yang bisa kami lakukan adalah mencegah agar api tidak menjalar membakar rumah-rumah yang lain. Kabar buruknya adalah, semua rumah yang berbatasan langsung dengan sumber kebakaran juga ditinggal mudik. Kosong tanpa penghuni.

Karena rumah sumber api adalah rumah di sudut jalan, maka rumah yang berbatasan langsung hanya ada di sisi kanan dan belakangnya. Saya ingat betul bagaimana saya dan warga yang lain menerobos masuk ke rumah-rumah yang ditinggal kosong ini. Mengeluarkan barang-barang yang bisa dikeluarkan seperti lemari, sofa, televisi, tabung gas, spring bed dan lain-lain. Juga bagaimana saya naik dan turun ke puncak genteng, melompat dari ujung satu ke ujung yang lain sambil membawa ember penuh air dengan sangat cepat saat lidah api sudah membakar beberapa bagian rumah-rumah ini. Semuanya bisa saya lakukan dengan sangat mudah. Tau film Ninja Assasin? Nah, saya tidak ada hubungannya dengan film itu.

Entah apa penyebab kebakaran ini. Setidaknya sebelum meninggalakan rumah untuk waktu yang lama, minimalkan potensi penyebab kebakaran yang mungkin terjadi. Pastikan tabung gas telah dilepas dari regulatornya dan tidak ada alat listrik yang masih terhubung ke konektor listrik.

Akhirnya rumah sumber api rata dengan tanah. Dan meskipun api juga membakar beberapa bagian rumah di sisi kanan dan belakangnya, namun secara keseluruhan rumah-rumah ini berhasil diselamatkan. Masalah muncul saat kami akan mengembalikan barang-barang yang tadi kami keluarkan. Sofa panjang yang tadinya saya keluarkan sendirian, harus diangkat oleh 4 orang. Begitu juga dengan beberapa warga yang ikut memadamkan api dari atas genteng, kebingungan untuk turun kembali. Bahkan untuk melangkah di atas genteng saja mereka kesulitan, tidak seperti tadi. Belakangan saya merasa perih setelah tau kalau tangan dan kaki saya berdarah di beberapa tempat karena tergores kaca dan atap seng, hal yang tadi tidak saya rasakan.

Saya percaya bahwa rasa takut adalah hasil ciptaan kita sendiri. Dan dengan menghapusnya, potensi kita bisa lebih besar. Jadi sebenarnya jika dalam kondisi yang terdesak dan tidak diberikan pilihan untuk ‘tidak bisa’, manusia akan mencari jalan untuk berpikir ‘bagaimana harus bisa’. Nah mari tanyakan diri kita apakah rasa bahagia, kesuksesan, membahagiakan orang tua, hingga memaksimalkan kualitas ibadah adalah suatu kebutuhan yang mendesak? Bila iya, maka harusnya bisa kita raih.

Tulisannya agak serius yah? Tapi semoga tulisan ini bermanfaat.

7 Comments

  1. iya ya bener cha.. ketika kita kepepet kita merasa seperti memiliki kekuatau luar biasa yg menghalau segala ketakutan dan keraguan kita.

    salam saya 🙂

  2. saya suka kalimat ini, “Reaksi saya pertama kali adalah: kagum. Api yang saya lihat saat itu adalah yang terbesar sejauh ini. Warnanya luar biasa indah.”. hahaha, mungkin kalo saya yang berada disitu, saya pun akan melakukan hal yang sama mas..

  3. Kekuatan orang kepept itu luar biasa dahsyat ada yang baik ada pula yg tidak…

  4. yang tadi gajinya cuma 1 juta, karena kepepet besok pagi jam 9 bisa dapat 5 juta??

    mba, gimana caranya supaya kepepet tiap hari???

  5. Bagus sekali ceritanya. Satu lagi bukti bahwa ketakutan itu sebenarnya adalah bayangan. Cara terbaik untuk mengalahkannya adalah menghadapinya. Dan ketika kita menghadapinya semua kemampuan kita akan keluar. Persis seperti yg di jelaskan Mas J dalam buku The Power of Kepepet-nya.

    Salam!

  6. Cerita yang luar biasa, hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya di dalam diri kita ini ada kekuatan yang terpendam yang sangat luar biasa. Tinggal bagaimana sekarang kita belajar mengenali dan mengembangkannya..sukses buat semuanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.